Co-Location, Solusi Perusahaan Tangani PP Nomor 82 Tahun 2012

Lufthi Anggraeni    •    Rabu, 07 Feb 2018 15:35 WIB
teknologi
Co-Location, Solusi Perusahaan Tangani PP Nomor 82 Tahun 2012
Co-location dinilai Teradata sebagai solusi perusahaan internasional untuk memenuhi Peraturan Pemeintah No 82 tahun 2012.

Jakarta: Pemerintah tengah menggalakan peraturan terkait penyimpanan data pribadi masyarakat agar tidak tersebar ke luar Indonesia dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012.

Peraturan tersebut mengharuskan data terkait sistem dan transaksi elektronik tersimpan di dalam negeri.

"PP 82 ini menjadi salah satu tantangan dihadapi sejumlah perusahaan internasional yang ingin beroperasi di Indonesia, namun tidak memiliki data center sendiri. Perusahaan ini dapat memanfaatkan metode co-location untuk dapat mengikuti regulasi pemerintah," ujar Presiden Direktur Teradata Indonesia, Erwin Sukiato.

Erwin menjelaskan, peran Teradata dalam metode co-location adalah terkait penyediaan hardware dan software, serta mengelola data yang dimiliki oleh pelanggan. Sebab menurut Erwin, pada metode co-location terdapat sejumlah faktor selain hardware dan software, yaitu ketersediaan bandwidth.

Sayangnya, Erwin mengaku Teradata tidak memiliki bandwidth tersebut, sementara bandwith menjadi faktor penting untuk mengendalikan data dari jarak jauh, baik di jaringan di Indonesia maupun di jaringan internasional.

Pemanfaatan co-location juga dinilai Erwin dapat meminimalisasikan investasi yang perlu dikeluarkan perusahaan terkait dengan pembangunan data center. Sebab perusahaan tidak perlu membangun data center yang membutuhkan waktu selama bertahun-tahun.

Teradata juga menyebut solusi On Premises, sebagai salah satu layanan yang ditwarkannya, dapat membantu co-location. Solusi tersebut juga akan menjadi salah satu fokus perusahaan tahun ini karena banyak perusahaan di Tanah Air yang harus memenuhi peraturan pemerintah.

Sebagai informasi, co-location data center atau co-location server sendiri artinya adalah meletakan server perusahaan pada sebuah ruangan di data center Indonesia yang di rancang khusus sesuai standar tertentu agar dapat memenuhi aksesibilitas diatas 99,9 persen (Tier III Data Center). Perusahaan bisa menyewa data center untuk peletakan server.


(MMI)

Nokia 2, Smartphone Paling Terjangkau dari HMD
Review Smartphone

Nokia 2, Smartphone Paling Terjangkau dari HMD

1 week Ago

Nokia 2 merupakan smartphone kelas pemula dari HMD. Ini ulasan tentang kelebihan dan kelemahann…

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.