PlayerUnknown's Battleground

PUBG Dijegal di Tiongkok

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 30 Oct 2017 16:55 WIB
gamepubg
PUBG Dijegal di Tiongkok
Gameplay dalam permainan PlayerUnknown's Battlegrounds yang sukses terjual 13 kopi dan memiliki 2 juta pemain loyal di seluruh dunia.

Metrotvnews.com: PlayerUnknown's Battlegrounds atau PUBG buatan Bluehole asal Korea Selatan tampaknya tidak akan mencicipi kesuksesan di Tiongkok, yang merupakan salah satu pasar game terbesar di kawasan Asia.

Dikutip dari Bloomberg, pemerintah negara tersebut beranggap konsep permainan battle royale yang diusung terlalu banyak mengandung unsur kekerasan. Selain itu, badan China Audio-Video and Digital Publishing Association menyebutkan bahwa konsep battle royale sangat bertentangan dengan ideologi dari negara tersebut, sehingga membayakan kalangan muda Tiongkok.

Hal ini dipercaya oleh berbagai pihak akan cukup berpengaruh terhadap kesuksesan game PUBG yang saat ini sudah terjual sebanyak 13 juta kopi dan memiliki 2 juta pemain di seluruh dunia. Di Tiongkok sendiri, game ini justru ditiru ke dalam versi mobile yang diketahui dari video yang tersebar di internet.

Tencent sebagai perusahaan internet dan pemilik pangsa pasar game mobile terbesar di Tiongkok padahal minggu lalu dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk membeli lisensi game PUBG dari Bluehole. Sayangnya, belum ada pernyataan resmi dari kedua belah pihak terkait keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah Tiongkok ini.

Badan regulasi dan pengawasan Tiongkok terkenal sangat keras dalam memberikan larangan serta sanksi bagi pihak yang menyebarkan konten tanpa seizin mereka di negara tersebut. Bahkan, badan pengawasan konten di Tiongkok kini sudah melarang developer game di negara tersebut untuk mengembangkan game serupa PUBG. Siapapun yang membuat konten streaming dari game tersebut juga akan diberikan sanksi.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari penelitian firma Newzoo diperoleh data bahwa Tiongkok merupakan pasar game terbesar di dunia saat ini, dengan pendapatan yang diprediksi mencapai USD27,5 miliar tahun ini, menyalip Amerika Serikat yang hanya mencapai USD25 miliar.


(MMI)