Data NSA Bocor, Ekspos 100GB Informasi Intelijen Militer AS

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 29 Nov 2017 13:30 WIB
cyber security
Data NSA Bocor, Ekspos 100GB Informasi Intelijen Militer AS
100GB data dari militer AS bocor.

Jakarta: Data rahasia dari Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) kembali bocor. Virtual disk image yang mengandung lebih dari 100GB data dari proyek intelijen militer AS dengan nama kode "Red Disk" muncul di server Amazon Web Services, lapor ZDNet. 

Disk image itu memang tidak terdaftar dalam server, tapi bisa diakses tanpa password. Itu artinya, semua orang yang bisa menemukannya bisa mengakses dokumen rahasia pemerintah. Dan itulah yang terjadi ketika Direktur dari riset ancaman siber di perusahaan keamanan UpGuard, Chris Vickery menemukan server tersebut pada akhir September.

Pada bulan Oktober, dia memberitahukan penemuannya pada pemerintah. Data itu ada dalam subdomain AWS bernama "inscom", yang merupakan singkatan dari US Army Intelligence and Security Command. 

"Untuk mengakses data, Anda cukup mengetikkan URL," kata Vickery seperti yang dikutip dari CNET. "Data ini masuk ke klasifikasi sangat rahasia, juga terdapat data terkait jaringan intelijen AS. Ini data yang digunakan untuk menentukan pembunuhan seseorang, dan semua ini tersedia dalam URL."

Vickery berkata, dia dapat mengakses data itu dengan sangat mudah ketika pertama kali menemukannya, yang membuatnya meragukan keaslian data tersebut. 

Kebocoran data dari server AWS dan NSA kini telah menjadi hal yang lumrah dalam beberapa tahun belakangan. Keamanan yang buruk pada server AWS membuat data-data terkait Pentagon, perusahaan telekomunikasi Verizon dan informasi dari 200 juta pemilih AS, bocor. 

Sementara itu, sejak Edward Snowden membocorkan program mata-mata besar-besaran NSA pada 2013, NSA juga terus mengalami masalah dengan keamanannya. Alat-alat peretas NSA telah dicuri dan kontraktor NSA juga dituntut karena membocorkan informasi rahasia badan tersebut ke masyarakat luas. 

Sementara pencurian data dari NSA bisa berujung pada masalah keamanan untuk banyak orang. Serangan ransomware WannaCry beberapa bulan lalu bisa menyebar dengan begitu cepat karena hacker memanfaatkan tool milik NSA. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.