Pendiri Oculus Keluar dari Facebook karena Perbedaan Pandangan Politik?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 12 Nov 2018 15:50 WIB
media sosialfacebook
Pendiri Oculus Keluar dari Facebook karena Perbedaan Pandangan Politik?
Pendiri Oculus, Palmer Luckey.

Jakarta: Pendiri Oculus Palmer Luckey sukses untuk membuat dunia kembali tertarik dengan teknologi Virtual Reality.

Tahun lalu, dia mendadak keluar dari Facebook, yang membeli Oculus. Kepergiannya itu memunculkan rumor bahwa petinggi Facebook memecatnya karena tidak suka dengan pandangan politiknya. 

Sekitar enam bulan setelah Luckey secara diam-diam membuat donasi sebesar USD10 ribu pada grup anti-Hillary Clinton pada pemilu presiden 2016, dia tidak lagi bekerja untuk perusahaan yang dia dirikan.

Di hadapan kongres Amerika Serikat, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa alasan Luckey pergi adalah "masalah pribadi" dan tidak pantas untuk disebut. Namun, dia membantah bahwa Luckey pergi karena pandangan politinya. 

Tampaknya, pandangan politik memang penyebab kepergian Luckey dari Oculus, menurut laporan The Wall Street Journal. Narasumber media itu menyebutkan bahwa Luckey dibuat mengambil cuti sebelum dipecat karena mendukung Donald Trump. 

Tidak senang dengan donasi yang dia berikan, eksekutif Facebook menekan Luckey untuk menyatakan dukungannya pada kandidat Gary Johnson.

Luckey kemudian meminta seorang pengacara untuk membelanya karena Facebook telah secara tidak adil menghukum seorang pegawai atas tindakan politik yang dia lakukan, lapor CNET.

Pengacara itu juga diminta untuk membuat Facebook setuju untuk membayar setidaknya USD100 juta. 

"Semua informasi terkait masalah pribadi karyawan dirahasiakan. Ini adalah regulasi kami terkait semua karyawan, tidak peduli jabatan mereka," kata juru bicara Facebook.

"Namun, kami bisa memastikan bahwa kepergian Palmer bukan karena pandangan politiknya. Kami selalu memastikan bahwa pembicaraan terkait politik sangat tergantung pada Palmer dan kami tidak memaksa dia untuk mengatakan apa yang tidak benar."

Kabar ini muncul di tengah kecurigaan para konservatif pada Silicon Valley, yang menuduh perusahaan seperti Facebook, Google, dan Twitter atas bias dan mendukung kelompok liberal serta menekan kelompok konservatif.

Pada Agustus, Presiden AS Donald Trump menuduh Google telah mengubah hasil pencarian terkait "Trump News" sehingga hanya berita buruk yang terlihat. Google membantah tuduhan ini. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.