Hakim Rilis Dokumen Terkait iPhone 6 dan 6 Plus

Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 25 May 2018 09:51 WIB
apple
Hakim Rilis Dokumen Terkait iPhone 6 dan 6 Plus
Hakim U.S. District Court Lucy Koh merilis sejumlah dokumen terkait kasus penekukan iPhone 6 dan iPhone 6 Plus.

Jakarta: Pada bulan September 2014 lalu, beberapa hari setelah peluncuran Apple iPhone 6 dan iPhone 6 Plus, sejumlah pemilik iPhone 6 Plus mengeluh bahwa perangkat mereka menekuk jika disimpan di kantong bagian depan terlalu lama.

Kemudian, sejumlah keluhan lain turut mengungkap bahwa kedua model iPhone 6 ini dapat menekuk. Apple merespon keluhan tersebut dengan menyebut bahwa penekukan pada perangkat tersebut merupakan insiden yang sangat jarang terjadi.

Apple juga mengklaim bahwa telah mengujikan kedua ponsel menggunakan sejumlah metode, seperti penekukan tiga titik, bersepeda dengan titik tekanan, duduk, melintir dan berdasarkan penelitian terhadap pengguna. Kala itu, Apple menyebut hanya sembilan konsumen yang mengeluhkan iPhone mereka tertekuk.

Menurut dokumen pengadilan, Apple mengetahui iPhone 6 bahwa 3,3 kali lebih berpeluang untuk menekuk jika dibandingkan dengan iPhone 5s, dan iPhone 6 Plus berpeluang 7,2 kali untuk menekuk.

Masih tersegel, Hakim U.S. District Court Lucy Koh merilis sebagian dari dokumen setelah mengumumkan keputusan di kasus tersebut.

Sejumlah pihak menemukan keterkaitan antara penekukan dan hal yang disebut sebagai "Touch Disease" yang menjadikan layar sentuh pada beberapa unit iPhone 6 dan iPhone 6 Plus tidak responsif. Layar juga dilaporkan akan menampilkan garis horisontal abu-abu berkedip di bagian atas layar.

Apple menyalahkan hal tersebut pada ponsel yang dijatuhkan sebanyak beberapa kali pada permukaan keras.

Apple juga menyebut tidak terdapat permasalahan secara teknis pada dua ponsel tersebut, namun pada bulan Mei 2016, Apple mulai memperkuat bagian dari papan logika yang terkait "penyakit sentuh".

Setelah tuntutan hukum yang didaftarkan terhadap Apple terkait "penyakit sentuh" tersebut, Apple mengumumkan bahwa perusahaannya akan menyelesaikan permasalahan ini melalui perbaikan seharga USD149 (Rp2,09 juta).

Apple mengakui bahwa permasalahan tersebut benar, namun tetap menyebut permasalahan ini sebagai dampak dari benturan saat terjatuh di permukaan keras.

Pada awal bulan ini, Hakim Koh menyangkal permintaan penuntut untuk sertifikasi aksi kelas. Koh menyebut bahwa penuntut tidak memiliki sistem yang sesuai untuk mendistribusikan kerusakan kepada anggota kelas.

Penuntut menyebut akan mengajukan banding terhadap keputusan Koh atau memintanya mempertimbangkan kembali.

Sementara itu, dokumen pengadilan dengan jelas menampilkan bahwa Apple telah memprediksi bahwa iPhone 6 dan iPhone 6 Plus akan lebih mudah untuk tertekuk jika dibandingkan dengan ponsel lain yang pernah dirilisnya.

Dokumen lain mengungkap bahwa lem yang digunakan oleh Apple pada perangkat sebelumnya tidak digunakan pada ponsel keluaran tahun 2014.

Hal ini mendorong chip kehilangan kontak dengan papan sirkuit tempatnya tersemat, menyebabkan perangkat tertekuk. Chip yang longgar menjadi salah satu teori yang disampaikan teknisi ponsel independen untuk menjelaskan alasan ponsel tertekuk.

Untuk mencegah insiden tersebut terjadi kembali, Apple menggunakan aluminum Series 7000, tipe yang juga digunakan oleh produksi pesawat terbang, untuk casis Apple iPhone 6s dan iPhone 6s Plus. Apple terus menggunakan bahan tersebut pada model iPhone terbaru yang diluncurkannya setiap tahun setelah 2014.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.