Google Assistant Makin Fasih Berbahasa Indonesia

Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 01 Jun 2018 09:07 WIB
google
Google Assistant Makin Fasih Berbahasa Indonesia
Dua bulan setelah diluncurkan, kemampuan Google Assistant dalam berbahasa Indonesia lebih baik.

Jakarta: Google resmi meluncurkan dukungan bahasa Indonesia untuk Google Assistant pada versi Android dan iOS pada bulan Februari lalu.

Dukungan bahasa Indonesia ini memungkinkannya memahami perintah dan konteks yang diucapkan pengguna dalam bahasa tersebut.

"Google Assistant dengan dukungan bahasa Indonesia sudah kami luncurkan pada bulan April lalu. Selama dua bulan ini, Google Assistant belajar dari pengguna yang sebagian besar anak muda dengan bahasa lebih luwes, jadi Assistant juga belajar memahami bahasa yang tidak santai," ujar Head of Marketing Google Indonesia, Veronica Utami.

Kemampuan lebih baik dalam memahami konteks dan bahasa Indonesia tidak baku tersebut terlihat saat menerima perintah suara seperti "Nyalain senter". Sebelumnya, Google Assistant baru memahami perintah dalam bahasa Indonesia baku seperti "Nyalakan".

Selain lebih mampu memahami perintah suara dalam bahasa Indonesia tidak baku, Google Assistant juga dapat memberikan tanggapan dalam bahasa lebih luwes. Hal ini menghadirkan pengalaman berinteraksi antara pengguna dan Google Assistant dengan kesan lebih alami.

Sementara itu, untuk melakukan tindakan, Google mendapatkan dukungan dari sejumlah pengembang aplikasi seperti Al-Qolam, Joox, Kaskus, Klikdokter, Mobile Legends.

Dukungan pengembang tersebut bertambah, memungkinkan pengguna untuk melakukan tindakan yang berkaitan dengan Spotify dan WhatsApp.

Dengan dukungan WhatsApp, pengguna dapat memerintahkan Google Assistant untuk mengirimkan pesan via aplikasi tersebut. Selain itu, jika sebelumnya hanya dapat memerintahkan pemutaran musik via Joox, kini Google Assistant dapat melakukan perintah yang sama pada aplikasi Spotify.

Untuk semakin menyempurnakan kemampuan Google Assistant tersebut, Google juga mendorong pengembang aplikasi untuk mengembangkan tindakan yang dapat dilakukan Assistant terkait aplikasi mereka. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.