Halaman Facebook Penyebar Berita Palsu Dilarang Beriklan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 29 Aug 2017 11:41 WIB
media sosialfacebookhoax
Halaman Facebook Penyebar Berita Palsu Dilarang Beriklan
Facebook terus cari cara perangi berita palsu. (Jaap Arriens Nur / Photo via Getty Images)

Metrotvnews.com: Facebook terus berusaha melawan berita palsu alias hoaks. Kemarin, media sosial tersebut mengumumkan bahwa Facebook Page yang berkali-kali membagikan artikel yang ditandai palsu oleh organisasi pihak ketiga tidak akan bisa mengiklan halamannya agar muncul di beranda pengguna.

Dengan begitu, diharapkan, penyebaran hoaks dapat dibatasi, mengingat mengiklankan Page ke Facebook merupakan salah satu cara mudah bagi penerbit konten untuk menyiarkan kontennya, seperti yang disebutkan oleh Mashable. 

"Kami ingin orang-orang tahu apa yan terjadi dengan teman, keluarga dan topik-topik yang menarik bagi mereka di Facebook, dan berita palsu merusak kepercayaan pengguna," ujar Rob Leathern, Product Manager Facebook.

"Pada dasarnya, kami berusaha untuk menghilangkan insentif untuk membuat berita palsu."

Keputusan Facebook ini merupakan cara mereka untuk membatasi perkembangan Facebook Page yang membagikan berita palsu yang kontroversial. Untuk mempopulerkan halamannya, terkadang, pemilik atau administrator sebuah Page membayar iklan ke Facebook, sehingga berita palsu yang dimuat dalam halamannya akan muncul dalam beranda pengguna. 

Facebook mengajak pihak ketiga untuk bekerja sama untuk memeriksa keaslian berita yang muncul di media sosialnya beberapa bulan setelah CEO Mark Zuckerberg menyebutkan bahwa dampak berita palsu tidak terlalu besar pada hasil pemilu presiden Amerika Serikat pada 2016.

Namun, sejak saat itu, Facebook telah mengambil berbagai langkah untuk meminimalisir jumlah berita palsu di jejaring sosialnya. 

Pada dasarnya, fitur-fitur baru dari Facebook terbagi menjadi 3 fungsi, yaitu menghilangkan insentif ekonomi pembuat berita palsu, membuat fitur baru dan membantu pengguna untuk membuat keputusan cerdas ketika melihat berita dalam media sosial. 


(MMI)