Rekrut Mata-Mata, Inggris Kalah Saing dari Facebook dan Google

Cahyandaru Kuncorojati    •    Kamis, 28 Dec 2017 10:34 WIB
cyber security
Rekrut Mata-Mata, Inggris Kalah Saing dari Facebook dan Google
GCHQ merupakan badan pertahanan dan intelijen di Inggris yang menaungi badan intelijen seperti MI5 dan MI6 yang dikutip dalam film agen rahasia James Bond 007.

Jakarta: Badan pertahanan sekaligus intelijen Inggris GCHQ mengakui perusahaan teknologi seperti Facebook dan Google menjadi saingan mereka dalam merekrut pekerja mata-mata.

Dilaporkan Business Insider, problem ini menjadi sebuah masalah serius bagi GCHQ hingga terlampir dalam laporan yang mereka buat. Seperti diketahui, beberapa tahun belakangan dan di 2017, dunia siber semakin tidak aman.

Dunia siber menjadi medan perang baru yang perlu diwaspadai karena sangat agresif digunakan untuk memata-matai negara lain. Oleh sebab itu, GCHQ dalam laporannya menekankan pemerintah Inggris harus merekrut ahli siber terbaik sebanyak mungkin demi menghadapi fenomena di dunia siber.

GCHQ mengakui kegiatan rekrutmen personil mata-mata baru yang mereka lakukan menurun hingga 22 persen sejak 2015 hingga 2016. Proses rekurtmen ini juga sangat ketat. Jumlah pendaftar tidak sebanding dengan jumlah yang diterima bekerja.

Alasannya rupanya cukup sederhana. Perusahaan teknologi seperti Facebook dan Google bisa memberikan penghasilan 4 hingga 5 kali lipat lebih besar dari yang ditawarkan GCHQ. Alhasil, mereka harus berebut sumber daya manusia terbaik di bidang yang tidak banyak digeluti ini.

Facebook dan Google serta perusahaan teknologi lain memang terbiasa merekrut mantan pekerja dari perusahaan keamanan atau latar belakang intelijen. Mereka memanfaatkan kemampuannya untuk memantau aktivitas di internet yang dianggap bisa mengancam keamanan perusahaan.

Pihak GCHQ sebetulnya juga sudah membuat kebijakan untuk menyediakan reward tambahan bagi para rekrutmen. Tujuannya agar banyak rekurtmen yang mendaftarkan diri ke lembaga tersebut ketimbang perusahaan teknologi.

GCHQ sendiri saat ini hanya memiliki 51 personil untuk mata-mata siber di bulan Juni 2016. Mereka menargetkan punya 110 personil di tahun 2018, dan meningkat lagi 14 persen di tahun 2020.

Rekrutmen mantan mata-mata atau intelijen dari lembaga intelijen negara di perusahaan teknologi juga bukan hal baru. Bukan hanya untuk menjaga keamanan perusahaan di dunia siber, tapi juga sebagai aset mata-mata untuk memperoleh rahasia atau proyek dari perusahaan kompetitor.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.