Terhalang Password, FBI tak Bisa Buka Ribuan Perangkat Elektronik yang Jadi Bukti

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 10 Jan 2018 22:48 WIB
cyber security
Terhalang Password, FBI tak Bisa Buka Ribuan Perangkat Elektronik yang Jadi Bukti
FBI kesulitan untuk mengakses bukti digital karena terhalang oleh enkripsi.

Jakarta: Tahun lalu, FBI tidak bisa mengakses konten dari setengah total perangkat elektronik yang disita sebagai bukti. Director FBI, Christopher Wray berkata, ini adalah masalah yang terus memburuk. 

Meskipun berhasil mendapatkan izin dari pengadilan untuk memeriksa konten dari perangkat-perangkat yang disita sebagai bukti, FBI gagal membuka 7.775 perangkat pada tahun fiskal 2017, yang berakhir pada bulan September, lapor NBC News

"Masing-masing perangkat terhubung ke subyek yang spesifik, tertuduh yang spesifik, korban yang spesifik, ancaman yang spesifik," kata Wray dalam konferensi keamanan siber di Fordham University di New York. 

Seorang anggota senior FBI berkata, jumlah perangkat yang tidak bisa dibuka tahun lalu mencapai angka tertinggi. "Ini adalah masalah yang terus memburuk," katanya. 

Wray berkata, sekarang, untuk menyelidiki dan mengusut semua kasus kriminal, mendapatkan bukti elektronik adalah hal yang sangat penting. "Kami kesulitan untuk mengakses bukti tersebut, meski kami memiliki otoritas untuk mengaksesnya," katanya. 

Omongan Wray memperkuat pernyataan pemimpin FBI sebelumnya, James Comey, yang sempat berusaha menyeret Apple ke pengadilan terkait konten yang ada pada iPhone milik salah satu pelaku penyerangan San Bernardino. FBI akhirnya bisa mengakses konten pada ponsel tersebut setelah iPhone itu dibuka oleh pihak ketiga. 

Wray juga berkata, semakin banyak kriminal yang menggunakan aplikasi terenkripsi, yang membuat komunikasi mereka menjadi lebih aman karena tidak bisa dimonitor dan didapatkan oleh FBI bahkan setelah mereka mendapatkan izin dari pengadilan.

Wray mengatakan, FBI tidak berusaha untuk mencari pintu belakang atau "back door" yang memungkinkan para agen untuk mendapatkan isi dari pesan-pesan tersebut. Namun, pihak berwajib ingin agar para developer aplikasi menyerahkan informasi tentang pesan pada barang bukti ketika FBI telah mendapatkan surat izin dari pengadilan untuk mengakses data tersebut. 

Meski para ahli teknologi ragu ada cara untuk mengakses pesan yang terenkripsi, Wray berkata, dia percaya masyarakat Amerika Serikat yang inovatif akan bisa menemukan cara tersebut. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.