Remaja Pembobol Sistem Apple tak Dipenjara

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 28 Sep 2018 11:22 WIB
applecyber security
Remaja Pembobol Sistem Apple tak Dipenjara
Remaja yang meretas Apple tidak mendapatkan hukuman penjara. (Photo by Lionel BONAVENTURE / AFP)

Jakarta: Seorang hacker remaja asal Australia mengaku bersalah atas tuduhan peretasan sistem Apple.

Dia berhasil menembus sistem Apple beberapa kali dalam waktu beberapa bulan. Namun, dia tidak akan masuk penjara. Dia mengaku, dia melakukan serangan ini karena dia adalah penggemar berat Apple. 

Media asal Melbourned, the Age, melaporkan bahwa Apple telah menghubungi FBI ketika mereka menyadari bahwa sistem mereka telah diretas.

Pihak berwajib kemudian menghubungi Australian Federal Police, yang menggerebek rumah sang remaja. Di sana, para agen menemukan data sensitif sebesar 90GB dengan judul folder "hacky hack hack."

Seorang hakim berkata di hadapan pengadilan bahwa sang remaja mengeksploitasi VPN yang ditujukan untuk koneksi jarak jauh, lapor Gizmodo.

Apple dikabarkan memblokir akses sang remaja pada November 2016. Namun, dia kembali mendapatkan akses ke sistem Apple pada tahun lalu. Apple berkata, tidak ada data pribadi penggunanya yang bocor akibat serangan ini. 

Pengacara sang remaja berkata bahwa dia meretas Apple karena dia adalah penggemar berat perusahaan itu. Dia masuk ke sistem Apple karena dia senang untuk berpura-pura menjadi karyawan Apple dan kegiatan itu tampaknya membuat kecanduan. 

Sang hakim menyebutkan, sang remaja telah menunjukkan rasa penyesalannya dan dia juga mau bekerja sama dengan penegak hukum. Karena itu, dia tidak akan dihukum penjara. Sebagai gantinya, dia akan mendapatkan masa percobaan selama delapan bulan. 

Ketika sang remaja mengakes sistem pertama kali, dia berumur 16 tahun. Sekarang, dia telah berumur 19 tahun dan telah diterima di universitas untuk belajar tentang kriminologi dan keamanan siber. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.