Tren Serangan DDoS Masih Warnai Q1 2018

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 16 Jul 2018 15:08 WIB
cyber securityVerisign
Tren Serangan DDoS Masih Warnai Q1 2018
Ilustrasi.

Jakarta: Verisign merilis laporan sistem keamanan jaringan terkait jenis serangan DDoS (Distributed Denial of Service) sepanjang QI 2018. DDoS sendiri merupakan jenis serangan siber yang kerap ditemukan untuk melumpuhkan layanan digital.

Dalam Laproan Tren DDoS Q1 2017, ditampilkan informasi mengenai perkembangan serangan DDOS yang sudah dimitigasi Berisign lewat layanan Verisign DDoS Protection Service.

Verisign menyebutkan bahwa mereka melihat melihat 58 persen dari serangan DDoS yang dimitigasi pada kuartal pertama (Q1) 2018 menggunakan banyak jenis serangan. Jenis serangan DDoS terdiri dari serangan IP fragment, berbasis Transmission Control Protocol (TCP), berbasis User Diagaram Protocol (UDP), Layer 7, dan lain-lain.

Menurut Verisign, terjadi peningkatan jumlah serangan sebesar 53 persen dan terdapat 47 persen peningkatan ukuran puncak serangan, apabila dibandingkan dengan kuartal keempat tahun 2017. Ukuran puncak serangan terlihat menurun sebesar 21 persen dari tahun ke tahun.



Volumetrik terbesar dan intensitas tertinggi dari serangan DDoS yang diamati oleh Verisign pada kuartal pertama 2018 adalah serangan multi-vektor yang memuncak lebih dari 70 Gbps dan sekitar 7,4 juta paket per detik (Mpps).

Serangan tersebut umumnya terdiri dari banjir TCP SYN dan TCP RST dengan berbagai ukuran paket, serangan amplifikasi DNS dan SNMP, banjir Internet Control Message Protocol (ICMP), dan paket-paket yang tidak valid. Meskipun begitu, jenis serangan IP Fragment masih mendominasi 50 persen jenis serangan.

Dari 58 persen, 42 persen masih menggunakan satu jenis serangan saja, dan 32 persen menggunakan lebih dari empat jenis serangan DDoS.

Penggunaan lebih dari satu jenis serangan ini ditujukan untuk mengecoh dan mempersulit tim IT melacak sumber serangan.Verisign mencatat bahwa industri finansial menjadi sektor industri yang paling sering menjadi target serangan DDoS selama Q1 2018.

57 persen kegiatan mitigasi saerangan dilakukan oleh indutsri finansial disusul industri IT dan cloud. Industri IT dan cloud merupakan industri yang mengalami serangan DDoS terbanyak kedua mewakili 26 persen dari aktivitas mitigasi, diikuti oleh industri telekomunikasi yang mewakili 17 persen dari aktivitas mitigasi.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.