Google Assistant Semakin Mirip Manusia, Apa Bahayanya?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 10 May 2018 17:50 WIB
google
Google Assistant Semakin Mirip Manusia, Apa Bahayanya?
Ilustrasi. (Ethan Miller / Getty Images / AFP)

Jakarta: Dalam konferensi Google I/O, Google mendemonstrasikan bagaimana asisten virtual buatan mereka memanggil salon untuk membuat janji potong rambut.

Satu hal yang menarik adalah sang penerima telepon tampaknya tidak sadar bahwa dia sedang berbicara dengan sebuah AI (kecerdasan buatan). 

Ini menunjukkan betapa canggihnya teknologi yang Google kembangkan. Pada saat yang sama, ini memunculkan banyak pertanyaan etis terkait AI dan efeknya pada kehidupan sosial manusia.

Melalui blog post, Google menjelaskan bahwa fitur bernama Duplex pada Assistant tidak membuat asisten virtual itu bisa menjawab pertanyaan terbuka.

Assistant tetap hanya bisa menjawab pertanyaan "tertutup", seperti "Berapa banyak meja yang ingin Anda pesan? Pada hari apa? Pada pukul berapa?"

Associate Professor of AI di Georgia Tech, Mark Riedl menjelaskan bahwa Google Assistant kemungkinan akan bekerja "dengan cukup baik" tapi hanya pada situasi tertentu.

"Menjawab pembicaraan yang di luar konteks akan menjadi masalah," katanya pada The Verge. "Namun, ada banyak cara untuk menyembunyikan fakta bahwa AI tidak mengerti pembicaraan atau membawa pembicaraan ke hal-hal yang ia mengerti."

Dalam sebuah wawancara dengan CNET, Google mengaku bahwa mereka ingin membuat AI yang transparan, artinya, lawan bicara AI tahu kalau dia tidak sedang berbicara dengan manusia. Pada saat yang sama, mereka sengaja membuat Assistant menyerupai manusia.

Google tidak hanya membuat Assistant tidak lagi terdengar layaknya robot, mereka juga membuat Assistant memiliki kebiasaan yang biasanya dimiliki manusia, seperti penggunaan "um" dan "uh". 

Keputusan Google untuk membuat Assistant semakin menyerupai manusia menimbulkan pertanyaan etis seperti apakah dampak keberadaan AI yang bisa berbicara layaknya manusia? 

Sekarang, kita sudah kesulitan untuk membedakan berita asli dengan hoaks atau memastikan sebuah gambar adalah gambar asli. 

Jika Google sukses membuat AI yang bisa berbicara layaknya manusia, tidak tertutup kemungkinan, di masa depan, kita akan kesulitan untuk membedakan apakah kita berbicara dengan manusia atau AI. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.