Perkembangan Teknologi Indonesia Tergantung Pemimpin Politik

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Sabtu, 22 Sep 2018 12:14 WIB
teknologikaspersky
Perkembangan Teknologi Indonesia Tergantung Pemimpin Politik
VP of Public Affairs, Kaspersky Lab, Anton Shingarev.

Siem Reap: Dalam komunitas keamanan siber dunia, tidak banyak kontribusi yang bisa Indonesia berikan.

Namun, itu bukan berarti Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk berkembang agar bisa bersaing dengan negara tetangga yang lebih maju seperti Malaysia dan Singapura. 

"Masalah di Indonesia sama seperti masalah yang dihadapi oleh banyak negara di Asia Pasifik, yaitu kurangnya kesadaran akan pentingnya keamanan siber, kurangnya profesional di bidang keamanan siber," kata VP of Public Affairs, Kaspersky Lab, Anton Shingarev saat ditemui dalam acara Cyber Security Weekend.

"Selain itu, di Indonesia, juga tidak terlalu jelas lembaga apa yang bertanggung jawab atas apa."

Meskipun begitu, pria yang akrab dengan sapaan Anton ini menyebutkan bahwa negara berkembang seperti Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan teknologi jika mereka bisa membangun infrastruktur dan Sumber Daya Manusia. 

"Justru karena saat ini kalian belum memiliki apapun, kalian punya kesempatan untuk langsung menggunakan teknologi terbaru," ujar Anton.

Dia mengakui, menggunakan teknologi terbaru tanpa disertai kesiapan SDM maka justru akan membuka celah bagi kriminal siber untuk menyerang.

Meskipun begitu, dia merasa, pembangunan infrastruktur teknologi tetap harus dilakukan, asalkan pembangunan itu disertai dengan pengembangan SDM di Indonesia. 

Menurut Anton, kemajuan negara berkembang sangat tergantung pada pemimpinnya. "Ketika seorang pemimpin politik memiliki political will, negara bisa berkembang dengan cepat," katanya. Dia menjadikan Singapura sebagai contoh.

Singapura mulai menyadari bahwa ruang siber adalah kawasan penting yang harus mereka lindungi sekitar lima sampai tujuh tahun lalu. Pemerintah Singapura kemudian memutuskan untuk fokus pada hal ini dan kini, Singapura bisa memberikan kontribusi yang signifikan dalam komunitas keamanan siber dunia. 

Edukasi juga merupakan poin penting jika Indonesia ingin menjadi lebih maju terkait teknologi. "Pemerintah perlu melakukan kampanye kesadaran siber dan menyediakan kelas bagi anak-anak," kata Anton.

"Di Rusia, kami mulai mengajarkan ilmu komputer pada kelas lima. Kami mengajarkan bagaimana anak harus bertindak di internet dan pemprograman dasar." Menurutnya. inilah salah satu alasan mengapa Rusia memiliki banyak software developer berbakat. 

Lalu, bagaimana cara agar membuat anak dan remaja tertarik untuk belajar komputer atau matematika, yang merupakan ilmu dasar untuk belajar pemprograman.

"Ada dua cara dan kedua cara ini harus berjalan secara bersamaan. Pertama, pemerintah harus membuat pekerjaan sebagai programmer sebagai pekerjaan yang seksi. Kedua, pekerjaan itu harus memberikan pendapatan yang cukup."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.