Skenario Penggunaan 5G Menurut Huawei

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 25 Dec 2018 18:04 WIB
huawei
Skenario Penggunaan 5G Menurut Huawei
Huawei menjelaskan penggunaan jaringan 5G.

Ubud: Penggunaan jaringan 5G akan terbagi ke dalam empat kategori, ungkap Huawei dalam acara media terbatas di Bali, Rabu, 19 November 2018.

Empat hal tersebut adalah kendaraan otonom, perangkat virtual reality dan augmented reality, konsep smart home, dan penggunaan Internet of Things untuk industri 4.0. 

Jaringan 5G diperkirakan akan mulai digulirkan secara global pada tahun depan. Dua kelebihan yang ditawarkan oleh jaringan 5G jika dibandingkan dengan jaringan 4G yang ada saat ini adalah kecepatan yang jauh lebih tinggi dan latensi yang lebih rendah. 

“Laporan Global Industry Vision Huawei memprediksi bahwa akan ada lonjakan konektivitas dari 16 miliar koneksi pada hari ini menjadi 100 miliar koneksi internet pada tahun 2025 mendatang. Untuk itu diperlukan sebuah infrastruktur yang memadai dalam mendukung berbagai skenario di dunia serba cerdas tersebut,” kata Senior Expert ICT Strategy & Business Huawei Indonesia, Mohamad Rosidi.

Rosidi menjelaskan contoh penggunaan jaringan 5G. Misalnya, penggunaan kendaraan otonom sebagai shuttle bus di dalam kompleks seperti kampus, bandara, dan tempat wisata. Sementara teknologi AR dan VR telah mulai diuji pada Piala Dunia tahun ini. 

Teknologi AR juga bisa digunakan untuk mengenali wajah, kendaraan, atau kartu identitas. Selain itu, jaringan 5G juga dapat digunakan untuk menawarkan siaran televisi berbasis internet protokol (IPTV) dengan resolusi 4K. Jaringan 5G juga bisa digunakan untuk melakukan integrasi sistem keamanan dan utilitas berbasis IoT. 

Namun, ada tantangan yang harus diselesaikan sebelum jaringna 5G bisa dimanfaatkan. Salah satunya fakta bahwa Indonesia masih masuk dalam daftar pemula atau starter dalam Laporan Global Connectivity Index Huawei 2018.

Itu artinya, kita masih akan fokus untuk menggelar infrastruktur teknologi karena infrastruktur yang belum memadai. 



“Negara pemula ini akan berfokus untuk memberikan akses terhadap Ekonomi Digital yang lebih luas bagi rakyat, sementara negara pemimpin sudah mulai berbicara tentang pengalaman pengguna, pemanfaatan Big Data dan IoT untuk membentuk masyarakat yang maju dan efisien,” kata Rosidi.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.