AS Kenalkan Hukum Data Aman

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 14 May 2018 10:29 WIB
amerika serikatappleiphone
AS Kenalkan Hukum Data Aman
Apple sempat beradu dengan FBI di pengadilan. (AFP PHOTO / Don EMMERT)

Jakarta: Regulator Amerika Serikat memperkenalkan Aturan Data Aman, sebuah peraturan baru yang mencegah penegak hukum dan badan intelijen memaksa perusahaan teknologi membuat pintu belakang atau backdoor di produk dan layanan mereka. 

"Badan intelijen dan penegak hukum AS telah meminta, memaksa dan bahkan mencari perintah pengadilan untuk meminta perusahaan dan individual untuk membuat sebuah 'backdoor', memperlemah enkripsi pada produk atau layanan mereka untuk membantu badan penegak hukum dalam melakukan pengawasan digital," kata representatif California dari Partai Demokrat, Zoe Lofgren. 

Digital Trends melaporkan, peraturan ini dianggap diperlukan setelah terjadinya pertarungan hukum antara badan intelijen dan perusahaan teknologi, seperti apa yang terjadi antara FBI dan Apple terkait enkripsi pada iPhone 5C.

FBI mendapatkan ponsel itu dari salah satu pelaku penembakan San Bernardino ada 2015. Namun, mereka tidak bisa membuka ponsel tersebut. Setelah meminta NSA membuka ponsel tersebut dan gagal, FBI kemudian meminta Apple untuk membuat backdoor pada iOS agar FBI bisa menembus sistem keamanan ponsel. Apple menolak. 

"Di tangan yang salah, software ini -- yang saat ini tidak ada -- akan memiliki ponsel untuk membuka semua iPhone yang bisa mereka pegang," kata CEO Apple, Tim Cook.

"FBI mungkin menggunakan nama yang berbeda untuk alat ini, tapi jangan salah: mengembangkan versi iOS yang bisa menembus keamanan sudah pasti akan menciptakan backdoor."

"Pemerintah mungkin akan berkata bahwa ini hanya digunakan dalam kasus ini, tapi tidak ada jaminan bahwa penggunaannya bisa dibatasi."

FBI dan Apple sempat beradu di pengadilan. Pada akhirnya, FBI menarik tuduhannya pada Apple dan meminta hacker untuk membuat tool untuk mengeksploitasi kelemahan yang ada pada iOS. Setelah itu, Apple meminta FBI untuk memberitahu mereka cara badan intelijen itu meretas sistem iOS. 

Lofgren percaya, backdoor pada sebuah produk atau layanan, meski ia dibuat untuk badan intelijen dan penegak hukum tetaplah "kelemahan yang bisa dieksploitasi oleh para hacker."


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.