Negara-Negara Minta Perusahaan Teknologi Buat Kunci Enkripsi

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 04 Sep 2018 11:47 WIB
cyber security
Negara-Negara Minta Perusahaan Teknologi Buat Kunci Enkripsi
Ilustrasi.

Jakarta: Pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan tiga negara lain telah setuju meminta perusahaan-perusahaan teknologi membuat backdoor ke produk mereka. Dengan begitu, pihak berwajib  bisa mendapatkan akses ketika diperlukan.

Jika perusahaan teknologi menolak, maka pemerintah mungkin akan mencari metode lain, baik dari segi teknis, legislatif atau bahkan pemaksaan untuk bisa mengakses informasi di layanan atau perangkat yang terkunci oleh enkripsi.

Pernyataan ini dibuat dalam pertemuan yang diadakan minggu lalu di antara lima negara dalam pakta Five Eyes, yang merupakan persetujuan antar-badan intelijen AS, Inggris Raya, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Kelima negara itu membahas berbagai masalah terkait teknologi. Namun, keputusan mereka terkait enkripsi adalah bagian yang paling menarik perhatian.

Dalam memo dari pertemuan tersebut, para pemerintah menekankan bahwa backdoor ini hanya akan digunakan untuk mengakses perangkat sesuai dengan hukum yang berlaku, seperti mengakses perangkat dalam investigasi kriminal, lapor The Verge.

Mereka akan mulai mendorong perusahaan teknologi untuk membuat backdoor. Memang, pemerintah menyebutkan bahwa perusahaan teknologi bisa memilih untuk tidak membuat backdoor itu. Jika mereka berkeras tidak memenuhi permintaan pemerintah, mereka mungkin akan menjadikan pembuatan backdoor sebagai suatu kewajiban.

Sekarang, pihak pemerintah memang hanya berharap bahwa perusahaan teknologi akan membuat backdoor untuk enkripsi pada layanan dan produk mereka. Meskipun begitu, ini menunjukkan betapa pemerintah tidak menyukai keberadaan enkripsi.

Mengingat enkripsi memang semakin banyak digunakan pada layanan dan produk teknologi, tidak tertutup kemungkinan ke depan pemerintah akan menuntut perusahaan teknologi untuk membuat backdoor.

Sementara itu, dari segi perusahaan teknologi, mereka enggan untuk membuat backdoor karena itu berarti bahwa mereka akan melanggar janji mereka pada konsumen untuk membuat produk atau layanan mereka aman.

Jika mereka mematuhi permintaan pemerintah dari lima negara ini, itu berarti, mereka juga harus memenuhi permintaan pembuatan backdoor dari negara-negara lain. Sementara keberadaan backdoor ini bisa disalahgunakan oleh pemerintah sebuah negara untuk memata-matai warganya sendiri.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.