OJK: Startup Wujudkan Inklusi Keuangan Indonesia

Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 23 Nov 2018 18:43 WIB
teknologistartup
OJK: Startup Wujudkan Inklusi Keuangan Indonesia
Mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia perlu dukungan berbagai pihak di industri finansial.

Jakarta: Inklusi keuangan menjadi salah satu hal yang difokuskan pemerintah dengan berkembangnya teknologi yang signifikan. Sebab, teknologi dinilai mampu mendorong percepatan inklusi di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada ajang Disrupto 2018. Menurut institusi ini, inklusi keuangan menjadi hal penting yang perlu difokuskan sebab dapat membantu dalam meningkat kesejahteraan masyarakat.

OJK juga menyebut, inklusi keuangan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat mencakup seluruh masyarakat di Indonesia, yang diamini oleh Tokopedia dan OVO. Kedua startup yang juga merambah layanan keuangan ini menyebut teknologi memungkinkan institusi bergerak dengan lebih cepat.

Peluang untuk dapat bergerak lebih cepat ini juga disebut Chief Financial Officer OVO Jason Tan dan VP of Engineering Tokopedia Herman Widjaja, didukung oleh adopsi smartphone tinggi di kalangan masyarakat yang belum memiliki akun rekening di bank.

Sementara itu dari sudut pandang regulator, Direktur bidang Keuangan Berkelanjutan OJK Edi Setiawan menyebut instansinya sangat mendukung inklusi keuangan berbasis teknologi.

“Bentuk dukungan OJK terhadap startup di industri finansial, termasuk fintech, sudah kami wujudkan melalui peraturan OJK nomor 77 dan peraturan nomor 13. Fintech menjadi area penting untuk meningkatkan inklusi finansial, karena memiliki keleluasaan dalam menciptakan beberapa produk dalam waktu relatif cepat, serta distribusi saluran,” ujar Edi.

Namun, Edi menyebut kemunculan fintech tidak hanya menghadirkan peluang, juga risiko, sehingga sebagai regulator, OJK memegang peranan penting dalam menyeimbangkan peluang dan risiko tersebut melalui regulasi.

Risiko yang tercipta dari kehadiran fintech juga dinilai semakin membahayakan akibat tingkat literasi finansial masyarakat Indonesia yang tergolong rendah.

Hal ini, lanjut Edi, mampu meningkatkan peluang terjadinya penipuan atau penyalahgunaan akibat kurangnya pengetahuan terkait finansial.

Karenanya, kolaborasi dan diskusi antara pemerintah dan startup pada industri finansial ini disebut Edi harus terjadi. Tidak hanya dengan pemerintah, Edi juga menyebut kerja sama antara industri fintech dan institusi finansial tradisional juga perlu terjadi demi mencapai target inklusi finansial tersebut.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.