Galaxy Note 7, dari Dipuja Sampai Terjatuh

Riandanu Madi Utomo, Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 11 Oct 2016 10:34 WIB
galaxy note 7
Galaxy Note 7, dari Dipuja Sampai Terjatuh
Samsung Galaxy Note 7. (AP Photo / Richard Drew, File)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pada tanggal 2 Agustus, Samsung melakukan peluncuran global Galaxy Note 7. Selain memperbaiki komponen, salah satu teknologi baru yang Samsung perkenalkan adalah pemindai iris mata.

Ketika itu, Samsung mendapatkan banjir pujian. Galaxy Note 7 bahkan dinobatkan sebagai smartphone dengan layar terbaik versi DisplayMate. Fakta bahwa Galaxy Note 7 anti-air, seperti Galaxy S7, juga merupakan daya tarik tersendiri.

Samsung lalu membawa Galaxy Note 7 ke Indonesia pada tanggal 23 Agustus. Di Indonesia, Samsung tidak segera menjual smartphone terbarunya. Namun, mereka membuka pre-order. Dalam waktu beberapa hari, stok Galaxy Note 7 yang Samsung sediakan di e-commerce ludes. Secara global, permintaan akan Galaxy Note 7 juga melebihi perkiraan Samsung, membuat mereka kesulitan untuk memenuhi permintaan dari konsumen.

Mimpi buruk Samsung bermula ketika muncul laporan bahwa baterai Galaxy Note meledak. Pada akhir bulan Agustus, muncul laporan Galaxy Note 7 meledak saat sedang mengisi baterai. Galaxy Note 7 yang pertama meledak ini diperkirakan ada di Tiongkok. Per tanggal 1 September, ketika Samsung membuat pernyataan resmi terkait penarikan kembali Galaxy Note 7, telah ada setidaknya 35 laporan Galaxy Note 7 yang terbakar. 

Meskipun Samsung menarik kembali Galaxy Note 7, smartphone itu tetap dijual di Tiongkok, alasannya adalah karena Samsung menggunakan pemasok baterai yang berbeda untuk Galaxy Note 7 yang dijual di Tiongkok. Namun, faktanya, ada beberapa laporan yang menyebutkan Galaxy Note 7 meledak di Tiongkok. 

Keputusan Samsung untuk tidak menarik kembali Galaxy Note 7 membuat masyarakat dan pemerintah Tiongkok marah karena perusahaan asal Korea Selatan tersebut dianggap meremehkan Tiongkok. Samsung akhirnya mengeluarkan permintaan maaf karena menyebabkan "kebingungan dan ketakutan" di Tiongkok, tapi tampaknya, reputasi Samsung telah terlanjur rusak.

Masalah Galaxy Note 7 yang rentan meledak ini memaksa Samsung untuk menunda peluncuran Galaxy Note 7 di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, Samsung batal mengirimkan Galaxy Note 7 yang telah dipesan. 

Samsung Electronics Indonesia lalu menawarkan uang kembali milik orang-orang yang telah melakukan pre-order. Untuk itu, Samsung Indonesia bekerja sama dengan rekan e-commerce mereka, seperti Blibli, JD.id, MatahariMall dan Lazada.

Sementara di negara-negara yang telah mendapatkan Galaxy Note 7, Samsung secara resmi menarik kembali Galaxy Note 7 yang telah sampai di tangan konsumen. Mereka menawarkan 2 opsi untuk pemilik Galaxy Note 7: menukar Galaxy Note 7 dengan yang baru atau menukarnya dengan Galaxy S7 atau S7 Edge dan uang selisih harga keduanya. 

Karena dianggap berbahaya, badan penerbangan AS (FAA) meminta penumpang pesawat untuk tidak membawa Galaxy Note 7 ke dalam pesawat. Garuda Indonesia dan AirAsia juga melarang penumpang menyalakan Galaxy Note 7 di dalam pesawat.



Namun, Samsung belum menyerah dengan Galaxy Note 7. Setelah menarik kembali Galaxy Note 7 yang disebut bermasalah, mereka meluncurkan versi baru yang diklaim aman. Mereka juga menandai Galaxy Note 7 baru ini dan meluncurkan situs untuk memeriksa apakah sebuah Galaxy Note 7 bermasalah atau tidak.

Minggu lalu, terdapat laporan bahwa Galaxy Note 7 yang seharusnya aman ini terbakar. Terdapat setidaknya 5 laporan yang menyebutkan bahwa Galaxy Note 7 pengganti terbakar.

Hal ini mendorong Samsung untuk mengubah keterangan kebijakan penarikan perangakat Galaxy Note 7 di blog resminya. Dalam blog tersebut, Samsung meminta berbagai pihak termasuk toko, operator, dan mitra penjualan untuk menghentikan penjualan dan penukaran Galaxy Note 7. Menurut The Verge, penjualan dan penukaran tersebut juga meliputi Galaxy Note 7 versi lama serta versi baru yang diklaim aman oleh Samsung.

Samsung juga meminta kepada seluruh pengguna Galaxy Note 7 untuk mematikan ponsel tersebut dan segera melakukan penggantian dengan perangkat lain atau melakukan proses pengembalian dana (refund).

"Saat ini kami sedang berusaha keras dan bekerja bersama pihak yang berwajib untuk melakukan investigasi terhadap berbagai kasus yang melibatkan Galaxy Note 7," tulis Samsung di blog.

Komisi perlindungan konsumen Amerika Serikat (CPSC) bahkan mendesak Samsung untuk menghentikan seluruh penjualan Galaxy Note 7. Ketua CPSC, Elliot Kaye, mengatakan penghentian seluruh penjualan dan program penukaran Galaxy Note 7 adalah langkah yang paling tepat bagi Samsung. Sementara itu, pihaknya juga masih melakukan investigasi mendalam mengenai berbagai kejadian yang melibatkan Galaxy Note 7.

Keputusan Samsung untuk menghentikan seluruh aktivitas penjualan serta penukaran Samsung Galaxy Note 7 menandakan ponsel flagship tersebut sudah harus berakhir sampai disini. Saat ini Samsung mulai berusaha menarik seluruh model Galaxy Note 7 yang ada di pasar, termasuk versi baru yang diklaim aman.

Samsung memang bisa saja merombak Galaxy Note 7 dan menghadirkannya kembali di pasar. Namun, nama Galaxy Note 7 sendiri sudah buruk di mata konsumen sehingga kemungkinan Samsung tidak akan menghadirkan kembali ponsel ini di pasar.

Masalah dengan Galaxy Note 7 ini membuat saham Samsung menurun tajam, meskipun begitu, di kuartal 3 2016, Samsung diperkirakan masih akan mendapat untung


(MMI)

Menjajal Lebih dalam Polytron Prime 7s
Review Smartphone

Menjajal Lebih dalam Polytron Prime 7s

4 days Ago

Polytron Prime 7s hadir dengan desain tipis dan ringan serta berkesan elegan, namun didukung ba…

BERITA LAINNYA
Video /