Demi Beli Qualcomm, Broadcom Naikkan Tawaran Jadi Rp1.645 Triliun

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 06 Feb 2018 14:06 WIB
qualcomm
Demi Beli Qualcomm, Broadcom Naikkan Tawaran Jadi Rp1.645 Triliun
Broadcom merupakan kompetitor Qualcomm di industri komponen semikonduktor.

Jakarta: Broadcom tampak gigih mengakuisisi Qualcomm. Setelah tahun lalu ditolak oleh Qualcomm dengan nilai tawaran USD130 miliar (Rp1.399 triliun) kini Broadcom kembali mengajukan tawaran baru.

Beberapa hari lalu memang dikabarkan bahwa Broadcom mau menawarkan nilai akusisi terbaru untuk Qualcomm tapi belum diketahui hasilnya. Broadcom mengumumkan tawaran akuisisi terbarunya dengan nilai USD121 miliar (Rp1.645 triliun), dikutip dari Reuters.

Tentu saja nilai tawaran akuisisi kali ini meningkat cukup besar, dan masih akan menjadi nilai akuisisi terbesar sepanjang sejarah industri teknologi apabila terlaksana.

Apalagi Qualcomm menjadi pihak penyedia komponen utama bagi produsen ponsel pintar Samsung dan Apple. Jadi akusisi ini akan sangat menarik perhatian para pemilik saham dan industri ponsel pintar secara global.

Nilai tawaran akuisisi terbaru itu juga berpengaruh terhadap nilai saham yang akan diperoleh apra pemegang saham. Pemilik saham akan memperoleh saham senilai USD82 (Rp1,1 juta) per lembarnya, meningkat dari USD70 (Rp900 ribu) dari tahun lalu.

Dikabarkan bahwa saham Qualcomm merosot 4,3 persen menjadi USD63,20 (Rp859 ribu) setelah kabar langkah Broadcom ini terdengar ke publik. Berbanding terbalik dengan nilai saham Broadcom yang justru meningkat 0,2 persen menjadi USD235,77 (Rp3,2 juta).

Sayangnya, hingga saat ini pihak Qualcomm belum akan memberi tanggapan sedikit pun hingga keputusan final terkait tawaran tersebut mereka umumkan. Broadcom sendiri terlihat sangat bersemangat.

Pihak Broadcom menegaskan bahwa ambisi Qualcomm untuk mendapatkan keuntungan sebesar USD1 miliar (Rp12 triliun) di tahun 2019 dari cost reduction setelah mengakhir kerja sama dengan Apple.

Seperti yang diketahui, Qualcomm dan Apple tengah berseteru soal perebutan lisensi teknologi yang ada di komponen prosesornya.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.