Korea Selatan akan Perketat Regulasi Bitcoin

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 29 Dec 2017 14:24 WIB
bitcoinkorea selatan
Korea Selatan akan Perketat Regulasi Bitcoin
Pemerintah Korea Selatan akan memperketat peraturan terkait bitcoin dan mata uang digital lain. (AFP PHOTO / KAREN BLEIER)

Jakarta: Pemerintah Korea Selatan mengumumkan regulasi baru terkait cryptocurrency, yang membuat harga bitcoin turun 12 persen dan harga Ethereum turun 8 persen. Setelah Amerika Serikat dan Jepang, Korea Selatan adalah pasar mata uang digital terbesar ketiga. 

Mulai bulan depan, akun anonim mata uang digital akan dilarang. Tidak hanya itu, para regulator juga akan terus memantau bursa mata uang digital.

"Spekulasi cryptocurrency sangat panas di Korea," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan resmi, seperti yang dikutip dari Engadget. "Pemerintah tidak bisa membiarkan situasi spekulasi tidak wajar ini begitu saja."

Wall Street Journal melaporkan, Kementerian Keadilan Korea Selatan mungkin akan mengajukan peraturan yang akan menutup bursa mata uang digital di negara itu. Namun, masih belum ada informasi lengkap terkait rencana tersebut.

Ini adalah langkah terbaru yang Korea Selatan ambil untuk meminimalisir dampak akibat nilai cryptocurrency yang mudah berubah. Sebelum ini, pemerintah juga telah melarang ICO (Initial Coin Offerings/Penawaran Koin Perdana).

Masyarakat semakin tertarik dengan bitcoin seiring dengan nilainya yang terus naik. Bulan ini, nilai bitcoin mencapai USD20 ribu (Rp271 juta), meroket tajam dari USD1.000 (Rp13,6 juta) pada awal tahun.

Namun, mata uang digital memiliki nilai yang fluktuatif. Selain itu, bursa cryptocurrency juga menjadi sasaran para penjahat siber. Bursa Youbit di Korea Selatan bankrut setelah mengalami kerugian sebesar USD35 juta  (Rp474 miliar) pada awal bulan ini dan USD72 juta (Rp976 miliar) dalam peretasan yang terjadi pada bulan April.

Dalam sebuah pernyataan resmi, pemerintah Korea Selatan menyebutkan bahwa mata uang digital rentan pada kerugian akibat investasi palsu atau serangan siber pada bursa. Dan hal ini bisa menciptakan dampak buruk jika pemerintah tidak turun tangan. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.