240 Ribu Data Pegawai Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Bocor

Cahyandaru Kuncorojati    •    Kamis, 04 Jan 2018 17:38 WIB
cyber security
240 Ribu Data Pegawai Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Bocor
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat menjadi lembaga yang ikut memantau keamanan siber di negara tersebut.

Jakarta: 240 ribu data pegawai Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) Amerika Serikat telah dibobol dan beredar setelah ditemukan oleh lembaga tersebut. Anehnya, pembobolan data tersebut bukan diakibatkan oleh serangan siber.

Meksipun tidak dijelaskan secara detil oleh lembaga tersebut tentang cara data tersebut bisa dibobol dan beredar, peristiwa ini berasal dari penyelidikan kasus kriminal terhadap salah satu mantan pegawai lembaga tersebut di bulan Mei lalu.

Tidak diketahui secara pasti identitas manta pegawai tersebut dan kasus kriminal apa yang menyandungnya. Namun, data-data yang dibobol berisi nama lengkap, nomor kependudukan, tanggal lahir, jabatan dan tingkat profesi hingga serta posisi penugasan.

Dikutip Gizmodo, pada situs lembaga tersebut dijelaskan proses penyelidikan yang cukup lama yakni hingga 7 bulan, dan akhirnya diketahui bahwa data tersebut bocor berdasarkan pertimbangan dampak atas kasus kriminal yang menyandang mantan pegawai DHS terhadap orang terdekat dan lembaga itu sendiri.

Menurut DHS, di dalam data yang bocor tersebut juga terdapat data investigasi yang telah dilakukan oleh DHS selama ini, mulai dari subjek penyelidikan hingga saksi mata, baik yang termasuk pegawai DHS maupun yang bukan.

Pihak DHS akhirnya menyediakan layanan AllClearID untuk membantu pegawai DHS yang data informasi pirbadinya termasuk dalam daftar data yang dibobol sehingga bisa segera mendapat pantauan dan layanan perlindungan terhadap indetitasnya.

Meskipun begitu, DHS menjamin data yang dibobol sama sekali tidak ada data informasi terkait anggota keluarga dari pegawai DHS. Hal ini, tentu saja menambah daftar panjang permasalah keamanan data di Amerika Serikat.

Beberapa waktu lalu, negara ini menuduh banyak sistem keamanan yang berafiliasi dengan Rusia sebagai mata-mata. Ternyata, pihak Amerika Serikat yang justru tidak memiliki sistem keamanan siber yang baik.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.