Robot yang Tidak Sempurna Lebih Disukai Manusia

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 31 Oct 2017 19:43 WIB
robot
Robot yang Tidak Sempurna Lebih Disukai Manusia
Interaksi antara robot dan manusia.

Metrotvnews.com: Robot diprediksi menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia, dan hal ini dianggap sebagai ancaman oleh sebagian besar orang. Beberapa peneliti tengah mencari solusi untuk menciptakan robot yang bisa diterima oleh manusia.

Berdasarkan hasil penelitian di Austria perihal robot masa depan yang dikutip The Wall Street Journal,  disebutkan bahwa robot yang memiliki kemampuan tidak sempurna jauh bisa diterima kehadirannya oleh manusia. Robot yang bisa melakukan segala sesuatu dengan sempurna justru kemungkinan besar dianggap sebagai ancaman oleh manusia.

Dijelaskan, ketika sebuah robot melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, maka interaksi yang dilakukan manusia dengan robot tersebut jauh positif. "Orang lebih menyukai robot yang tidak sempurna dan jauh akan bersikap baik kepada robot tersebut," ungkap Nicole Mirnig, peneliti di Pusat Kajian Interaksi Manusia dan Komputer di University of Salzburg, Austria.

Kajian tersebut dilakukan lewat interaksi anatar manusia dengan robot Nao buatan Japan SoftBank Corp yang memiliki perawakan seperti manusia, sekaligus beberapa kekurangan seperti meminta mengulang perintah lebih dari sekali dan kerap menjatuhkan benda yang mereka bawa.

Dari rekaman video yang memantau aktivitas dan interaksi antara manusia dengan robot tersebut, tampak ketika robot melakukan kesalahan maka, manusia akan menerima kesalahan tersebut dan membantu sang robot.

Raut wajah dan ekspresi manusia yang menghadapinya jauh lebih banyak menunjukkan hal positif, begitu juga dengan opini mereka tentang interaksi yang dilakukan dengan robot tersebut.

Kekurangan yang dimiliki oleh robot dianggap bisa memicu interaksi yang lebih positif atau natural. Berbeda jauh jika sang robot sudah bisa melakukan segala sesuatu dengan sempurna, maka bisa dipastikan interaksi yang terjalin anatara robot dengan manusia akan sangat minim.

"Hal ini berkaitan dengan teori psikologi 'pratfall effect', seseorang bisa menjadi lebih menyukai orang lain apabila orang lain tersebut melakukan sebuah kesalahan. Kesalahan tersebut bisa menimbulkan rasa simpatik," ungkap Mirnig.

Menurutnya, hal ini akan menjadi tantangan juga bagi para teknisi dalam mencipatakan robot yang manusiawi atau diterima oleh manusia. Mereka harus memahami batasan kesalahan dan kemampuan robot yang bisa diterima oleh manusia.

Tentu saja, manusia juga tidak menginginkan terjadinya kesalahan fatal dan terlalu sering untuk beberapa hal, seperti kendaraan otonom dan hal-hal yang menyangkut layanan kesehatan.


(MMI)