Pelaku Wangiri Bisa Saja di Indonesia

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 03 Apr 2018 12:35 WIB
telekomunikasicyber security
Pelaku Wangiri Bisa Saja di Indonesia
foto: Mobile Syrup

Jakarta: Kasus penipuan Wangiri kembali mengemuka setelah beberapa hari belakangan banyak pelanggan layanan seluler mendapat missed call dari nomor misterius asal luar negeri.

Kasus penipuan ini bisa menyebabkan tagihan seluler membengkak dan terkuras habis. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto telah menyatakan ada beberapa prefix atau kode nomor telepon internasional yang digunakan oleh pelaku Wangiri

Setyo menyebutkan, sebagian besar menggunakan prefix atau kode +261 (Madagaskar) dan +242 (Kongo), +269 (Komoro), +231 (Liberia), +216 (Tunisia) dan +682 (Kepulauan Cook). Menurutnya, nomor ini memang serupa dengan yang terjadi di negara lain beberapa tahun lalu.

"Itu tidak hanya di Indonesia. Menyasarnya secara acak. Jadi, mereka ambil pulsa secara acak ke seluruh warga dunia dengan teknologi. Bukan hanya warga negara Indonesia yang disasar, tapi warga negara lain juga. Tujuannya nyedot pulsa," jelas Setyo di Mabes Polri.

"Saya mengimbau kepada masyarakat yang merasa dirugikan akibat panggilan itu supaya melapor ke kepolisian. Paling tidak ini kan antar negara. Kami harus kerja sama dengan Interpol (International Police),” katanya lagi.

Ibnu Dwi Cahyo, pakar keamanan siber dari CISSREC menyebutkan bahwa modus penipuan Wangiri dampaknya lebih terasa pada pelanggan layanan seluler pascabayar ketimbang prabayar.

"Kalau korban melakukan panggilan balik  ke nomor pelaku Wangiri, dan korban adalah pengguna layanan seluler pascabayar, tagihannya bisa membengkak. Berbeda kalau pelanggan prabayar, mungkin pulsanya tersedot," ungkapnya yang juga pernah menjadi korban dari kasus ini beberapa tahun lalu.

Ibnu menjelaskan, pelaku Wangiri memiliki software untuk mengubah panggilan korban yang membalas missed call Wangiri untuk mengenakan biaya premium rate ke nomor korban dan masuk ke kantong pelaku.

"Software ini juga memungkinkan menggunakan nomor dari mana saja. Bukan berarti karena nomor missed call dari Afrika maka pelakunya adalah orang sana. Bisa saja pelakunya juga di Indonesia," jelasnya.

Ibnu menyebutkan bahwa pelaku mudah saja menemukan nomor yang dijadikan korban dengan membeli daftar nomor tersebut di pasar gelap.

"Bukan berarti data nomor kita bocor, tapi memang saat ini kita tanpa sadar dengan mudahnya membagikan nomor yang termasuk sebagai data pribadi. Misalnya, saat mengisi pulsa atau mengajukan berbagai macam layanan di pusat perbelanjaan. Memang ada orang yang sengaja menyimpannya dan menjualnya di dark web," tutur Ibnu.


(MMI)

ASUS Zenfone Max Pro M1, Pas untuk yang Suka Main Game Bareng
Review Smartphone

ASUS Zenfone Max Pro M1, Pas untuk yang Suka Main Game Bareng

6 hours Ago

Menjual daya tahan baterai yang awet dengan kebutuhan mobile gaming adalah perpaduan yang pas.

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.