Klarifikasi Kemenkominfo Soal Hoaks Bantuan FPI

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 03 Oct 2018 15:58 WIB
kominfohoaxGempa Donggala
Klarifikasi Kemenkominfo Soal Hoaks Bantuan FPI
Semuel dan Ferdinandus. (Medcom.id)

Jakarta: Kementerian Komunikasi dan Informatika memberikan klarifikasi terkait kabar yang mengimplikasikan bahwa Kominfo mengklaim bantuan yang diberikan oleh FPI (Front Pembela Islam) di kawasan Sulawesi Tengah sebagai hoaks. 

"Kami tidak pernah menyebutkan bahwa FPI tidak melakukan bantuan kemanusiaan. Yang kami sampaikan adalah gambar yang diadukan melalui email kepada Kominfo merupakan gambar yang pernah dibagikan pada 2015," kata Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu. 

Foto yang Ferdinandus maksud adalah foto dengan caption yang menyatakan bahwa FPI sedang memberikan bantuan kepada korban bencana di Palu.

Namun, ketika Kominfo menelusuri asal gambar tersebut, diketahui bahwa foto itu merupakan foto dari bantuan yang FPI berikan pada korban longsor di Tegal Panjang, Sukabumi pada 2015. 



Banyak orang yang mengira bahwa Kominfo mengatakan, bantuan yang diberikan oleh FPI di Palu adalah salah. Ferdinandus menjelaskan, sejak siaran pers Kominfo diunggah, dia mendapatkan puluhan ribu pesan di Facebook, Twitter dan WhatsApp, memintanya untuk mengklarifikasi informasi tersebut. 

"Kemenkominfo tidak menafikan peran yang diemban oleh setiap komponen bangsa, termasuk organisasi masyarakat seperti FPI, untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Sulawesi Tenggara," kata Ferdinandus.

Dia mengatakan, pihaknya hanya berusaha mengurangi hoaks yang menyebar di internet.  Sementara itu, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, sejak gempa di Lombok, banyak hoaks yang beredar.

Karena itulah, Kominfo berusaha untuk memberikan kejelasan informasi ketika masyarakat mengirimkan aduan konten. Semuel juga mengatakan, tidak ada jaminan bahwa orang yang menyebarkan foto ini adalah anggota FPI. 

"Kami meluruskan, foto yang disebarkan adalah foto lama yang kembali digunakan hari ini. Ini yang membuat masyarakat menjadi kebingungan," kata Semuel.

Dia menegaskan, Kominfo hanya meluruskan informasi yang kebenarannya diragukan. Mereka tidak secara sengaja menargetkan organisasi tertentu, dalam kasus ini, FPI. 

Terkait proses verifikasi, Ferdinandus menjelaskan, ketika ada aduan konten dari masyarakat, Kominfo kemudian menggunakan mesin crawling untuk menelusuri sumber dari konten itu.

"Mesin crawling di Kominfo bekerja 24/7 dengan dukungan verifikator 70 orang," kata Ferdinandus. Mesin itu bisa melacak konten di internet menggunakan kata kunci tertentu. "Konten itu lalu masuk ke sebuah folder besar yang akan diverifikasi oleh 70 verifikator."

Tujuannya adalah untuk mengurangi tersebarnya hoaks di ranah internet, terutama hoaks yang bisa menyebabkan kepanikan seperti kabar akan terjadi gempa di kawasan tertentu. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.