Startup Sebaiknya Sering Dialog dengan Pemerintah

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 08 Mar 2017 10:30 WIB
startup
Startup Sebaiknya Sering Dialog dengan Pemerintah
Director of Strategy and Technology, Office of the CTO, NetApp APAC, John Martin.

Metrotvnews.com, Jakarta: Di era digitalisasi ini, banyak startup yang bermunculan. Tak terkecuali di Indonesia. Salah satu bukti bahwa pemerintah mendukung keberadaan startup adalah dengan membentuk Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). 

Namun, apa semua yang pemerintah lakukan sudah cukup?

"Menurut saya, apa yang pemerintah lakukan tidak akan pernah cukup," kata Director of Strategy and Technology, Office of the CTO, NetApp APAC, John Martin saat ditemui di Fairmont Hotel, Selasa (7/3/2017). 

Meskipun begitu, dia menjelaskan, memang sudah menjadi tugas pemerintah untuk berhati-hati saat dihadapkan dengan inovasi baru. Dia membandingkan hubungan antara pemerintah dengan startup seperti orangtua dengan anaknya.

Sebagai "orangtua", pemerintah akan selalu ingin memastikan startup, yang ada di posisi anak, untuk tidak keluar dari zona aman. Sementara startup akan selalu meminta pemerintah untuk menyetujui rencana mereka.

Menurut John, wajar, jika startup terus mendorong pemerintah untuk mendukung mereka. Pada saat yang sama, tidak aneh jika pemerintah pada awalnya menolak ide startup. Yang penting, menurut John, bukanlah apakah sebuah pemerintahan harus menjadi lebih konservatif atau lebih terbuka, tapi tentang keterbukaan antara pelaku startup dengan pemerintah.

"Melakukan dialog yang sehat, itulah yang paling penting," ujar John. Dan hal ini juga terjadi di negara-negara lain, tidak hanya di Indonesia. 

Dengan dialog, startup bisa memberitahu pemerintah apa yang bisa mereka lakukan untuk membuat kondisi kondusif. Perlahan, pemerintah akan dapat membuka diri dan membuat peraturan terkait berbagai inovasi baru yang muncul di era digitalisasi. 

Pemerintah memang seharusnya berhati-hati. Itulah salah satu alasan mengapa pemerintah biasanya enggan untuk berbagi data yang mereka miliki. John menjelaskan, jika pemerintah berbagi data kependudukan yang mereka miliki, pihak swasta memang bisa saja melakukan inovasi hebat dengan itu.

"Tapi mereka juga bisa memberikan data itu pada orang yang tak dikenal, misalnya untuk mencari tahu siapa saja yang tidak memiliki listrik dan merampok mereka," ujar John.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.