Tiongkok Buka Blokir Game

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 31 Dec 2018 10:39 WIB
games
Tiongkok Buka Blokir Game
Tencent mendapatkan penghasilan dari game seperti Arena of Valor.

Jakarta: Tiongkok baru saja mencabut larangan untuk merilis game baru. Pemerintah telah menyetujui peluncuran 80 game baru. Menariknya, tidak ada satu pun game yang berasal dari Tencent, perusahaan gaming terbesar di Tiongkok. 

Tencent dikenal sebagai perusahaan yang membuat WeChat, aplikasi super Tiongkok yang memungkinkan untuk melakukan banyak hal, mulai dari komunikasi, pembayaran, dan berbagai aplikasi mini lainnya.

Namun, sumber penghasilan utama dari Tencent adalah game, seperti Arena of Valor (yang juga dikenal dengan nama Honor of Kings), League of Legends, dan juga game-game yang telah mereka dukung seperti PlayerUnknown's Battlegrounds dan Fortnite, lapor The Verge. 

Tahun ini, Tiongkok memperketat peraturan terkait video game. Ini memaksa Tencent beradaptasi, membuat perusahaan fokus pada pasar internasional, terutama Fortnite, yang dilaporkan telah mendapatkan keuntungan sebesar USD3 miliar pada tahun ini. 

Minggu lalu, mengutip wakil ketua unit propaganda dari Partai Komunisi, China Securities Journal melaporkan bahwa peluncuran sejumlah game telah disetujui. Tencent dengan cepat merespons.

"Ini adalah kabar baik untuk industri game secara keseluruhan," kata Tencent dalam pernyataan resmi. 

Larangan peluncuran game baru ini memiliki dampak besar. Tidak heran, mengingat pasar game Tiongkok mencapai USD30 miliar pada tahun ini.

Pada Maret, pemerintah Tiongkok berhenti untuk menyetujui peluncuran game baru, menyebabkan keuntungan Tencent untuk menurun untuk pertama kalinya dalam waktu 10 tahun.

Pada Agustus, beijing meresmikan larangan peluncuran game baru, beberapa hari setelah Presiden Xi Jinping memberikan pidato tentang banyaknya anak daj remaja yang menderita rabun jauh dan pemerintah merasa, mengurangi waktu bermain adalah solusinya. 

Pada November, Tencent mulai meminta para pemain untuk mengaku umur dan identitas mereka untuk memastikan bahwa gamer muda tidak bermain hingga larut malam. 

Keputusan Tiongkok untuk kembali menyetujui peluncuran game baru memang kabar baik untuk industri. Sayangnya, proses penentuan sebuah game layak dirilis masih belum diketahui. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.