Peneliti Gunakan Ponsel untuk Deteksi Parkinson

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Sabtu, 06 Oct 2018 15:20 WIB
smartphone
Peneliti Gunakan Ponsel untuk Deteksi Parkinson
Ilustrasi.

Jakarta: Dua peneliti mencoba menggunakan data dari smartphone untuk mendiagnosis penyakit Parkinson's. 

Dalam sebuah penelitian yang dirilis pada hari Kamis, Patrick Schwab dan Walter Karlen dari Institute for Robotics and Intelligent Systems di Swiss mencoba menggunakan data dari smartphone dan teknik pembelajaran mesin dalam membantu dokter mendiagnosis penyakit Parkinson. 

Kedua peneliti itu mencoba untuk menggunakan data yang dikumpulkan oleh smartphone dan menganalisis untuk mendeteksi gejala dari Parkinson. Selain itu, mereka juga ingin mendeteksi perkembangan Parkinson's pada orang yang memang telah terkena, lapor CNET

Menurut Mayo Clinic, penyakit Parkinson adalah kelainan pada sistem syaraf yang memengaruhi bagaimana seseorang bergerak. Seiring dengan semakin parahnya penyakit Parkinson's, maka ia akan memengaruhi kemampuan pasien untuk berbicara dan berjalan.

Saat ini, belum ada obat untuk Parkinson meski memang ada beberapa tindakan yang bisa diambil untuk meminimalisir gejala penyakit tersebut. 

Parkinson memengaruhi lebih dari 6 juta orang di dunia, menurut laporan penelitian ini. Seperempat dari diagnosa Parkinson salah karena ada gangguan gerakan lain yang juga memiliki gejalan serupa.

Schwab dan Karlen menggunakan aplikasi smartphone untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan. 

Para peserta lalu memasukkan informasi medis dan demografis mereka. Mereka lalu diminta untuk melewati empat tes menggunakan smartphone mereka. Tes-tes ini, yang dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari, meliputi tes berjalan, suara, mengetuk ponsel dan memori. 

Dalam tes berjalan, peserta diminta untuk berjalan 20 langkah ke depan dan berputar balik. Pada tes suara, peserta diminta untuk mengucapkan "aaaah" selama 10 detik.

Sementara tes pengetukan meminta pengguna meletakkan ponsel dalam permukaan data dan mengetuk dua tombol pada layar secara bergantian selama 20 detik.

Dalam tes memori, pengguna diminta untuk mengingat pola dari kelopak bunga yang menyala pada layar kemudian menyentuh dalam pola yang sama. Schwab dan Karlen menemukan bahwa dari keempat tes itu, tes berjalan adalah tes yang memberikan informasi paling baik untuk mendiagnosa Parkinson.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.