Skandal Cambridge Analytica tak Berdampak Besar ke Facebook

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Minggu, 15 Apr 2018 17:32 WIB
media sosialfacebookCambridge Analytica
Skandal Cambridge Analytica tak Berdampak Besar ke Facebook
Skandal Cambridge Analytica tidak terlalu memengaruhi Facebook. (AFP PHOTO / Daniel LEAL-OLIVAS)

Jakarta: Kejatuhan Facebook tampaknya terlalu dibesar-besarkan, setidaknya menurut Facebook.

Meskipun skandal Cambrdige Analytica membuat banyak orang kaget dan mendorong munculnya tagar #DeleteFacebook, media sosial itu tampaknya masih beroperasi seperti biasa. Seorang eksekutif mengonfirmasi hal ini dalam wawancara dengan The Wal Street Journal. 

Sebagian besar pengguna tidak mengubah peraturan mereka dan para pengiklan juga tidak mendadak mencabut iklannya dari Facebook. "Kami tidak melihat perubahan drastis dari para pengguna, misalnya orang-orang mendadak tidak lagi mau berbagi data mereka dengan kami,'" kata Global Marketing VP Carolyn Everson. 

Memang, Facebook kini berada di bawah pengawasan ketat berbagai regulator di dunia, termasuk Indonesia. Namun, Everson berkata bahwa mereka tidak memperkirakan akan ada banyak perubahan terkait regulasi untuk Facebook, lapor TechCrunch

Sang eksekutif menyebutkan, Facebook tidak "mengantisipasi perubahan drastis pada pendapatan dan model bisnis kami" karena pengguna bisa memilih untuk tidak ikut dalam model iklan tertarget, yang menjadi fokus pada penyelidikan Kongres Amerika Serikat.

Para analis Wall Street setuju dengan pernyataan itu. Para pengiklan juga tidak berbondong-bondong memutuskan untuk berhenti memasang iklan di Facebook. "Iklan di Facebook murah jika dibandingkan dengan pertumbuhan yang mereka dapat. Kami melakukan studi yang menunjukkan bahwa tidak ada penurunan pengiklan," kata analis David Seaburg pada CNBC.

Lain halnya dengan Cambridge Analytica. Perusahaan yang operasi pengumpulan datanya memulai skandal ini tampaknya kesulitan untuk mengatasi kecaman yang mereka dapat. Sampai sekarang, mereka terus berusaha untuk memperbaiki reputasi mereka. 

Tentu saja, Cambridge Analytica bukanlah Facebook. Kebanyakan orang sudah menjadi kecanduan dengan Facebook, baik untuk kebutuhan pribadi atau profesional. Sulit untuk mengingat waktu ketika kita belum menggunakan media sosial. Karena itu, sulit untuk membayangkan kehidupan tanpa Facebook. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.