Arab Saudi Punya Mata-Mata di Twitter?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 22 Oct 2018 11:18 WIB
media sosialtwitter
Arab Saudi Punya Mata-Mata di Twitter?
Pemerintah Arab Saudi dikabarkan melatih seorang pegawai Twitter untuk menjadi mata-mata. (Photo by NICOLAS ASFOURI / AFP)

Jakarta: Pada hari Sabtu, New York Times membuat artikel tentang langkah yang diambil oleh Arab Saudi untuk melawan oposisi di Twitter.

Wartawan Amerika Serikat, Jamal Khashoggi, menjadi korban serangan online sebelum kematiannya. Salah satu hal yang dilakukan oleh Arab Saudi adalah melatih seorang pegawai Twitter untuk memata-matai akun pengguna. 

Menurut Times, beberapa tahun lalu, badan intelijen barat telah menghubungi Twitter, mengatakan bahwa, pemerintah Arab Saudi tengah "melatih" salah satu pegawai mereka, Ali Alzabarah untuk "memata-matai akun orang-orang yang membelot."

Alzabarah bekerja di Twitter sejak 2013 sebagai seorang teknisi yang dapat mengakses akun para pengguna. Pemerintah Arab Saudi berhasil meyakinkannya untuk memerhatikan beberapa akun, lapor The Verge

Setelah mendapatkan peringatan, Twitter dikabarkan membuat Alzabarah mengambil cuti administratif ketika penyelidikan berlangsung.

Meskipun tidak ditemukan bukti bahwa dia memberikan data pengguna Twitter pada pemerintah Arab Saudi, dia dipecat pada akhir 2015. Setelah dipecat, Alzabarah kembali ke Arab Saudi. 

Twitter kemudian memberikan notifikasi pada puluhan akun yang mungkin menjadi target. Times menyebutkan, beberapa akun yang diduga dimata-matai oleh pemerintah Arab Saudi adalah milik peneliti keamanan, akadmisi, dan wartawan, termasuk orang-orang yang ikut serta dalam proyek Tor.

Sebelum kematiannya, Khashoggi terlibat dalam proyek untuk melawan perlakuan kejam di dunia maya.

Ketika diminta berkomentar, juru bicara Twitter berkata bahwa mereka tidak memiliki informasi baru untuk ditambahkan saat ini. Dalam laporan ini, tidak disebutkan apakah akun Khashoggi termasuk salah satu akun yang dimata-matai oleh Alzabarah.

Namun, dia memang menjadi korban serangan dari para troll di bawah pemerintah Arab Saudi untuk membungkam para oposisi yang mengkritik. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.