Konten GIF Tidak Hanya Ada di WhatsApp

Cahyandaru Kuncorojati    •    Senin, 06 Nov 2017 23:40 WIB
kominfowhatsapp
Konten GIF Tidak Hanya Ada di WhatsApp
Apllikasi WhatsApp bukan satu-satunya layanan yang menyediakan akses ke konten berupa GIF.

Metrotvnews.com, Jakarta: Konten negatif dalam bentuk GIF menjadi perbicangan terkait akses konten tersebut yang bisa dengan mudah dicari lewat aplikasi WhatsApp. Perlu diketahui, konten GIF tidak hanya pada aplikasi WhatsApp.

Apa sebenarnya konten GIF? GIF merupakan akronim dari Graphics Interchange Format, sebuah format file yang ditemukan pada tahun 1987. File berbentuk sebuah video atau animasi singkat yang akan berputar berulang-ulang.

GIF terbentuk dari sebuah potongan video atau kumpulan beberapa foto yang disatukan menjadi sebuah video berdurasi sangat singkat.

GIF sendiri bisa ditemukan pada WhatsApp karena GIF diposisikan seperti emoji, sebagai penghias dalam percakapan agar jauh lebih seru. Oleh sebab itu, GIF dikategorikan sebagai jenis ekspresi atau sesuatu yang bisa dipergunakan dalam percakapan.

Pada hari Minggu lalu (5/11/2017) masyarakat dihebohkan dengan pesan berantai lewat layanan aplikasi WhatsApp yang berisi peringatan bahwa aplikasi tersbeut bisa dipergunakan untuk melihat konten negatif format GIF. Konten GIF sebetulnya bisa ditemukan dimana saja, misalnya di aplikasi Facebook, Twitter, bahkan hingga kolom pencarian Google.

Penggunaan GIF di layanan media sosial yang baru saja disebutkan juga masih sama, yakni ditujukan untuk membuat percakapan atau unggahan lebih ekspresif. Sejatinya, layanan-layanan tersebut menyediakan konten GIF dari layanan aplikasi pihak ketiga.

Pada kasus WhatsApp, konten GIF berasal dari aplikasi pihak ketiga. Aplikasi pihak ketiga tersebut adalah Giphy dan Tenor, yang memang merupakan situs database berisi beragam GIF yang bisa dipergunakan dengan bebas.

Oleh sebab itu, pihak Facebook mengaku tidak bisa memonitor konten GIF yang disediakan oleh aplikasi pihak ketiga. Alasannya, pertukaran pesan antar pengguna sifatnya terenkripsi end-to-end alias hanya pengguna yang bisa mengetahuinya.

Apabila pihak WhatsApp bisa mengetahuinya, maka artinya layanan tersebut memata-matai percakapan penggunanya. Satu-satunya cara adalah dengan memblokir akses konten tersebut dari aplikasi WhatsApp, dan hal tersebut yang diajukan oleh pihak Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Cara lain untuk meredam penyebaran konten GIF yang tergolong konten negatif adalah dengan menegur pihak penyedia konten yakni Tenor. Giphy sendiri di bulan Agustus lalu sudah menerima teguran dari pihak Kominfo, sehingga akhirnya layanan tersebut kini kooperatif dalam menyaring konten negatif.

Sekadar blokir memblokir tidak bisa menjadi solusi tunggal. Mengapa? karena pasti akan selalu ada pihak-pihak yang membuat konten GIF. Langkah berikutnya adalah pengawasan orangtua terhadap anak ketika mereka berselancar di internet. Bagaimanapun, kemajuan teknologi tidak bisa dibendung, dan setiap individu harus lebih bijak dalam memanfaatkannya. 


(MMI)