Tentara Israel Jadi Target Aplikasi Kencan Palsu, Apa Tujuannya?

Cahyandaru Kuncorojati    •    Rabu, 04 Jul 2018 16:26 WIB
Tentara Israel Jadi Target Aplikasi Kencan Palsu, Apa Tujuannya?
Ilustrasi.

Jakarta: Tentara Israel beberapa waktu belakangan kerap menjadi target serangan siber yang bertujuan mengumpulkan informasi pribadi mereka.

Dikutip dari Business Insider, pihak tentara Israel mengakui sebagian personilnya menerima ajakan untuk mengunduh sebuah aplikasi kencan palsu yang ternyata berusaha mengumpulkan informasi identitas mereka setelah berkenalan dengan seseorang di Facebook.

Diceritakan oleh pihak IDF bahwa mereka menerima pertemanan dari sebuah akun yang diduga palsu dan kebanyakan menggunakan identitas palsu sebagai seorang perempuan.

Setelah terjalin percakapan, akun palsu tersebut akan mengajak personil mereka yang sudah tertipu untuk mengunduh beberapa aplikasi di Google Play yang belakangan diketahui sebagai aplikasi palsu.

Aplikasi palsu tersebut di antaranya aplikasi kencan Glance Love, dan Golden Cup sebuah aplikasi pemantau skor Piala Dunia sepak bola.

Setelah melalui beragam penelusuran dan menemukan aplikasi ini adalah palsu, pihak IDF menetapkan bahwa hal yang menimpa personil mereka tersebut adalah sebuah serangan siber.

Serangan ini dilakukan semata untuk mengumpulkan identitas pribadi personil tentara Israel, misalnya daftar kontak serta akses kamera dan mikrofon sehinga smartphone mereka bisa dikendalikan oleh pelaku serangan siber.

Belakangan Israel kemudian mengklaim bahwa aksi serangan ini dilakukan oleh kelompok Hamas untuk memancing personilnya mengunduh aplikasi berbahaya lainnya yang akan nantinya bisa memata-matai mereka.

Beberapa personil yang mengaku menjadi korban menuturkan bahwa sebelumnya mereka akan menerima percakapan dengan seorang perempuan bernama Lina Kramer di platform Facebook bahkan WhatsApp.

Sejauh ini belum ada tanggapan dari kelompok Hamas yang dituding Israel dibalik serangan siber ini. Israel telah menyatakan akan meningkatkan pengawasan penggunaan media sosial di kalangan militernya.

Beberapa waktu lalu badan militer Rusia juga menerapkan pengawasan ketat terhadap personilnya untuk tidak mengunggah konten ke media sosial selama bertugas.
(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.