Kominfo Nyatakan Blokir Layanan Telegram

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 14 Jul 2017 18:54 WIB
kominfo
Kominfo Nyatakan Blokir Layanan Telegram
Ilustrasi: Newsweek

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Komunimasi dan Informatika memblokir aplikasi pengirim Telegram. Alasannya adalah karena aplikasi itu sering digunakan oleh anggota grup radikalisme dan teroris untuk berkomunikasi.

"Aplikasi Telegram dipakai oleh teroris jaringan radikalisme untuk berkomunikasi," ujar Noor Iza kepada Metrotvnews.com. Dia menjelaskan, tingkat penggunaan Telegram oleh grup radikal dan teroris dirasa cukup intens. Karena itu, Kominfo memutuskan utk memblokir aplikasi pengirim pesan tersebut .

Noor menjelaskan, pemblokiran telah dilakukan mulai hari ini, sebelum pukul 11.00 WIB, Jumat (14/7/2017). Lebih lanjut dia mengatakan, ke depan, tidak tertutup kemungkinan Kominfo akan memblokir aplikasi lain jika ditemukan adanya indikasi digunakan oleh grup teroris atau radikal. 

Menurut pantauan Metrotvnews.com, aplikasi Android Telegram masih bisa digunakan, walau versi perambannya sudah tidak bisa diakses. 

Saat ditemui dalam acara NextDev, Direktur Telkomsel Ririek mengatakan bahwa pihaknya telah mendapatkan surat dari Kominfo untuk melakukan pemblokiran situs Telegram. 

"Kita akan mengikuti apapun yang diinstruksikan oleh Kominfo." kata Ririek. Dia menjelaskan, secara teoritis, pemblokiran Telegram atau aplikasi/situs tertentu akan berdampak pada transaksi konsumen. Namun, Ririek merasa, dampak negatif yg muncul jika aplikasi yang digunakan oleh grup teroris dan radikal dibiarkan akan lebih berbahaya. 

"Kami sendiri juga mempromosikan internet baik. Internet baik itu berfungsi mengontrol konten negatif," ujarnya. 

Sementara itu, Ayu, GM Corcomm XL mengatakan bahwa XL belum mendapatkan surat perintah utk memblokir Telegram. "Sampai saat ini kami belum menerima surat permintaan untuk blokir. Namun jika surat tsb telah diterima, maka kami akan memprosesnya sesuai arahan pemerintah," kata Ayu. 

Kami sudah menghubungi pihak Indosat Ooredoo, Hutchinson Tri dan Smartfren. Namun, hingga berita ini diunggah, kami belum mendapatkan jawaban terkait pemblokiran Telegram.

Pada akhir November lalu, Telegram memang sempat memblokir 78 kanal komunikasi yang diduga digunakan oleh kelompok ISIS untuk menyebarkan propaganda dan sebagai alat komunikasi.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.