Facebook dan Microsoft Bantu AS Hadapi Ancaman Siber

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 20 Dec 2017 14:31 WIB
facebookmicrosoftcyber security
Facebook dan Microsoft Bantu AS Hadapi Ancaman Siber
Ilustrasi.

Jakarta: Facebook dan Microsoft berhasil menonaktifkan sejumlah ancaman siber dari Korea Utara minggu lalu.

Hal ini diungkapkan oleh pihak Gedung Putih kemarin, pada saat yang sama dengan deklarasi Amerika Serikat yang menyatakan Korea Utara sebagai dalang serangan ransomware WannaCry pada bulan Mei lalu. 

"Facebook menghapus akun-akun yang menghentikan operasi serangan-serangan siber yang sedang berlangsung sementara Microsoft mengeluarkan patch atas serangan yang ada dan tidak hanya patch untuk WannaCry," kata penasehat keamanan dalam negeri AS, Tom Bossert pada hari Selasa, lapor Reuters

Bossert tidak memberikan informasi lengkap terkait apa yang dua perusahaan teknologi raksasa itu lakukan. Namun, dia juga meminta perusahaan teknologi lain untuk ikut berperan dalam keamanan siber. 

Juru bicara Facebook mengonfirmasi bahwa mereka memang telah menghapus akun-akun yang terhubung dengan grup hacker asal Korea Utara, Lazarus Group dengan tujuan untuk "mempersulit mereka untuk menjalankan kegiatan mereka."

Kebanyakan akun ini adalah akun pribadi yang dioperasikan sebagai akun palsu serta digunakan untuk menjalin hubungan dengan calon target, ujar sang juru bicara. 

Facebook menyebutkan, mereka juga menghubungi orang-orang yang dihubungi dengan akun-akun yang mereka hapus tersebut. Langkah yang Facebook ambil kali ini serupa dengan tindakan mereka untuk menghapus akun-akun yang diperkirakan digunakan pihak Rusia untuk mengacaukan pemilihan presiden AS pada 2016. 

Sementara itu, dalam sebuah blog post, President Microsoft, Brad Smith berkata bahwa minggu lalu, Microsoft telah mengacaukan malware yang digunakan oleh Lazarus Group, membersihkan komputer-komputer yang terinfeksi dan "mematikan akun-akun yang digunakan untuk melakukan serangan siber."

Smith berkata, langkah-langkah ini diambil setelah konsultasi dengan beberapa pemerintahan, yang tidak dia sebutkan. Dia juga menyebutkan, keputusan Microsoft ini tidak dipengaruhi oleh permintaan pemerintahan. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.