Hacker Rusia Incar Perusahaan Software Pemilu AS

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 06 Jun 2017 13:46 WIB
amerika serikatrusiacyber security
Hacker Rusia Incar Perusahaan Software Pemilu AS
Ilustrasi. (Getty Images)

Metrotvnews.com: Badan intelijen militer Rusia berhasil meretas perusahaan software pemilu Amerika Serikat dan melakukan serangan phishing yang menargetkan lebih dari 100 petugas pemilu lokal, menurut dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional (NSA) yang dipublikasikan oleh The Intercept.

Serangan siber ini terjadi beberapa bulan dan beberapa hari sebelum pemilu AS dilakukan pada bulan November tahun lalu. Pada bulan Januari, komunitas intelijen AS menyimpulkan bahwa pemerintah Rusia telah melakukan serangan siber pada infrastruktur pemilu AS, termasuk serangan pada Komite Nasional Demokrat dan staff dari calon presiden Hillary Clinton. 

Menurut laporan Engadget, dokumen NSA yang dipublikasikan hari ini menunjukkan secara seklias bagaimana Rusia dapat menembus sistem pemilu AS dan informasi apa yang mereka ingin manipulasi. Sayangnya, laporan ini tidak menyebutkan apakah serangan ini memengaruhi hasil pemilu. 

NSA berkata, pada bulan Agustus, para hacker Rusia mengirimkan email phishing yang ditujukan pada pegawai perusahaan swasta AS yang mengembangkan software untuk pemilu. Namun, masih belum jelas bagaimana cara kerja dari serangan phishing ini.

Tidak diketahui berapa banyak korban dari serangan ini, walau NSA menyimpulkan, setidaknya ada satu akun yang menjadi korban, mengingat serangan ini ditujukan ke banyak orang. 

"Para pelaku kemungkinan mencoba untuk mendapatkan informasit terkait hardware dan software untuk pemilu," tulis NSA dalam laporannya. 

Perusahaan yang berhasil diretas tidak disebutkan namanya, walau seperti yang disebutkan oleh The Intercept, laporan NSA ini sempat menyebut EViD, produk yang digunakan oleh vendor software asal Florida, VR System. EViD mengakses informasi calon pemilih termasuk status pendaftaran, nama dan alamat.

VR Systems memiliki kontrak dengan pemerintah California, Florida, Illinois, Indiana, New York, North Carolina, Virginia dan West Virginia. 

Para hacker kemudian membuat akun email menggunakan nama perusahaan yang menjadi target mereka dan mengirimkan 2 dokumen Microsoft Word yang berisi trojan kepada 122 petugas dan organisasi pemerintah lokal. Menurut laporan NSA, hal ini terjadi pada 1 November.

Jika seseorang membuka dokumen yang terinfeksi trojan tersebut, ini akan memicu dipasangnya malware tanpa sepengetahuan korban. Malware ini memungkinkan hacker mengakses komputer korban terus menerus. NSA berkata, tidak diketahui apakah serangan phishing ini sukses.


(MMI)

Menjajal Kemampuan Ponsel 2 Kamera Depan Oppo F3
Review Smartphone

Menjajal Kemampuan Ponsel 2 Kamera Depan Oppo F3

17 hours Ago

Sama seperti ponsel Oppo sebelumnya, F3 mengunggulkan kamera depan. Ponsel ini dilengkapi denga…

BERITA LAINNYA
Video /