Bos Google: Kami Mungkin takkan Rilis Project Dragonfly

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Selasa, 16 Oct 2018 15:37 WIB
google
Bos Google: Kami Mungkin takkan Rilis Project Dragonfly
Google mungkin tidak akan rilis Project Dragonfly. (AFP PHOTO / LIU JIN)

Jakarta: Google tengah mencoba untuk mengembangkan search engine atau mesin pencari yang telah disensor agar mereka bisa kembali beroperasi di Tiongkok.

Namun, pada hari Senin, CEO Google Sundar Pichai mengatakan bahwa dia tidak yakin mereka akan meluncurkan search engine tersebut.

Dalam konferensi Wired25 di SFJazz Center di San Francisco, Pichai mengatakan bahwa Google memulai proyek internal yang dinamai Project Dragonfly untuk mengetahui search engine apa yang bisa mereka sediakan di Tiongok, mengingat negara itu memiliki peraturan penyensoran yang sangat ketat.

Penyensoran itu menyebabkan banyak perusahaan asal Amerika Serikat, termasuk Google, tidak bisa beroperasi di Tiongkok.

Google mendapatkan kritik terkait rencana mereka untuk meluncurkan Project Dragonfly, search engine yang telah disensor sesuai dengan peraturan di Tiongkok. Para pekerja Google sendiri bahkan memprotes keras akan proyek ini, menurut laporan CNET.

Dikabarkan, sekitar 1.000 karyawan menandatangani surat terbuka untuk meminta perusahaan agar lebih transparan tentang proyek tersebut dan mengadakan peninjauan etika yang melibatkan seluruh karyawan Google dan tidak hanya para eksekutif perusahaan.

Selama ini, Google tidak banyak berbicara tentang Project Dragonfly. Namun, bulan lalu, Chief Privacy Officer Google, Keith Enright mengonfirmasi di hadapan Komite Dagang Senat bahwa mereka memang sedang mengembangkan Project Dragonfly. Hanya saja, dia enggan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang proyek itu.

Pada hari Senin adalah pertama kalinya Pichai mengakui akan adanya Project Dragonfly. Pichai mengatakan, Google terus menerus "menyeimbangkan nilai perusahaan untuk menyediakan informasi pada pengguna, kebebasan untuk berekspresi, privasi dan kami juga mengikuti setiap peraturan di masing-masing negara." Dia mengaku, Tiongkok menawarkan tantangan tersendiri.

"Itulah alasan mengapa kami mengembangkan proyek internal," kata Pichai. "Kami ingin tahu bagaimana cara Google beroperasi jika kami ada di Tiongkok."


(MMI)

Samsung Galaxy A9, Si Unik Berkamera Empat
Review Smartphone

Samsung Galaxy A9, Si Unik Berkamera Empat

5 days Ago

Samsung mengakhiri tahun 2018 dengan ponsel inovatif dalam hal kamera dengan dukungan empat kam…

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.