Signal Tolak Buka Akses Khusus untuk Pemerintah

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 17 Dec 2018 12:00 WIB
cyber security
Signal Tolak Buka Akses Khusus untuk Pemerintah
Ilustrasi.

Jakarta: Sejak enkripsi mulai digunakan di dunia komersil dan tidak hanya oleh badan mata-mata, pemerintah berusaaha membatasi penggunaannya.

Salah satu tempat pertarungan penggunaan enkripsi adalah Austraia. Di sana, para politikus menekan perusahaan teknologi, memaksa mereka untuk membuat "back door" untuk mengakses pesan yang terenkripsi.

Signal, salah satu aplikasi pengirim pesan terenkripsi, mengatakan bahwa mereka tidak bisa dan tidak akan mematuhi perintah dari pemerintah Australia tersebut.

Dalam sebuah artikel, Signal mengatakan bahwa mereka tidak menyimpan informasi berupa kontak, lokasi, anggota grup, dan data lain. Mereka juga menyebutkan bahwa semua konten pesan dan panggilan terlindungi oleh kunci enkripsi yang tidak bisa mereka akses.

"Kami tetap berkomitmen untuk melawan pengawasan massal di seluruh dunia," kata Signal, seperti yang dikutip dari Quartz.

Signal bukan satu-satunya aplikasi yang mengenkripsi pesan dan panggilan teleponnya. WhatsApp, anak perusahaan Facebook, juga menggunakan enkripsi end-to-end. Itu artinya, para pengguna memiliki kunci digital untuk membuka kunci pesan yang mereka terima.

Pada 2016, FBI mencoba untuk memaksa Apple membiarkan mereka mengakes informasi pada iPhone miliki tersangka penembakan di San Bernardino, California. Pada akhirnya, para penegak hukum dikabarkan bisa menemukan celah keamanan yang memungkinkan mereka untuk mengakes ponsel itu.

Enkripsi banyak digunakan dalam komunikasi dan perdagangan digital. Namun, penggunaan enkripsi untuk masyarakat umum menuai kontroversi.

Alasannya karena penggunaan enkripsi menyulitkan pihak berwajib untuk dapat memata-matai tersangka kriminal, mulai dari pengedar narkoba sampai teroris.

Sementara orang-orang yang peduli dengan privasinya melihat enkripsi sebagai cara untuk melindungi masyarakat dari kriminal yang mungkin ingin mencari data mereka.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.