Teknologi 5G Bisa Mudahkan Akses Internet di Pedesaan

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 28 Jun 2018 19:33 WIB
internet
Teknologi 5G Bisa Mudahkan Akses Internet di Pedesaan
Senior Director, Strategic Business Development & Solutions Asia Pasific, Ciena, Anup Changaroth. (Medcom.id)

Jakarta: Di Indonesia, 4G resmi diperkenalkan pada 2015. Meskipun begitu, kini, telah ramai pembicaraan penggunaan teknologi berikutnya, yaitu 5G.

Senior Director, Strategic Business Development & Solutions Asia Pasific, Ciena, Anup Changaroth mengatakan, nantinya, tingkat adopsi teknologi 4G dan 5G akan meningkat secara bersamaan di Indonesia. 

"Indonesia memiliki tren yang mirip dengan India," kata pria yang akrab disapa Anup ini ketika ditemui di One Pacific Place, Kamis 28 Juni 2018. "Keduanya tidak memiliki jaringan fiber optik yang luas." 

Ketiadaan jaringan fiber optik yang luas ini yang membuat Anup memperkirakan, teknologi 5G pertama kali akan digunakan sebagai Fixed Wireless Access (FWA), yang dapat digunakan untuk menyediakan internet di rumah menggunakan jaringan nirkabel mobile dan bukannya kabel.

Saat ini, FWA tidak bisa digunakan untuk menggantikan layanan broadband di rumahan atau gedung perkantoran karena teknologi yang ada belum bisa memberikan kecepatan mengunduh atau tingkat latensi layaknya jaringan kabel dengan fiber optic. 

Namun, jika FWA digunakan dengan 5G, maka jaringan internet yang ditawarkan akan menawarkan performa dan kecepatan yang cukup baik. Teknologi ini cocok digunakan di Tanah Air karena Indonesia adalah negara kepulauan. 

"Kita akan melihat percobaan teknologi 5G pada 2019 dan adopsi awal pada 2020," kata Anup. Dia menjelaskan, 5G tidak akan bisa digunakan oleh konsumen secara langsung. Dia memperkirakan, operator telekomunikasi baru akan bisa menyediakan internet dengan 5G pada 2021. Alasannya, karena diperlukan pengaturan spektrum dan lisensi dari spektrum tersebut. 

Lalu, bagaimana tren industri bisa menguntungkan Ciena? Anup menjelaskan, untuk membangun infrastruktur dan menyediakan jaringan fiber optic dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

"Mengoperasikan jaringan fiber optik membutuhkan sumber daya yang banyak. Karena itu, banyak perusahaan yang kesulitan untuk mendapatkan untung," katanya. 

Salah satu cara perusahaan untuk memangkas biaya adalah dengan mengurangi jumlah orang yang mengoperasikan jaringan. Anup mengklaim, software dan hardware yang diberikan oleh Ciena jauh lebih mudah untuk digunakan. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk mempekerjakan pegawai dengan kemampuan tinggi. 

Selain itu, Ciena juga tengah mengembangkan metode untuk mengotomatisasi jaringan. Sehingga jumlah karyawan yang diperlukan untuk merawat jaringan tidak terlalu banyak. 



"Salah satu teknologi kunci yang sedang Ciena kembangkan adalah cara untuk melakukan otomatisasi jaringan," kata Anup. 

Saat ini, Anup menjelaskan, industri masih dalam tahap "Orchestrated". Ke depan, jaringan akan menjadi lebih adaptif dan akan muncul berbagai alat yang mengerti apa yang terjadi pada jaringan dan membantu perusahaan untuk mengambil keputusan terkait penanganan jaringan. 


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.