Hacker Curi Informasi Pribadi dari 1,5 Juta Pasien di Singapura

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Minggu, 22 Jul 2018 12:05 WIB
cyber security
Hacker Curi Informasi Pribadi dari 1,5 Juta Pasien di Singapura
Ilustrasi.

Jakarta: Singapura baru saja mengalami serangan siber yang disebut oleh media lokal sebagai serangan "terparah" sepanjang sejarah.

Para hacker menargetkan pusat kesehatan terbesar di Singapura, SingHealth dan mencuri data pribadi dari 1,5 juta pasien dan juga informasi resep dari 160 ribu orang lainnya, termasuk Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong. 

Pemerintah Singapura mengatakan bahwa serangan ini bukanlah serangan yagn dilakukan oleh kelompok kriminal atau hacker kasual. Meski belum diketahui siapa dalang di balik serangan ini, media lokal menyebutkan bahwa serangan ini diduga dilakukan oleh hacker atas permintaan negara lain. 

"Ini adalah serangan siber yang dilakukan secara sengaja, tertarget dengan rencana yang matang," kata pemerintah Singapura, seperti yang dikutip dari The Verge. Perdana Menteri Lee juga membahas tentang serangan ini melalui unggahan di Facebook. 

"Saya tidak tahu apa yang para penyerang ingin temukan. Mungkin mereka sedang mencari rahasia negara yang memalukan atau sesuatu untuk mempermalukan saya. Jika ya, mereka akan kecewa. Informasi medis saya bukanlah informasi yang tidak saya beritahukan pada banyak orang, tapi tidak ada hal yang memalukan di dalamnya," kata Lee. Dia menambahkan, para hacker ini sangat mumpuni dan didukung oleh "sumber daya besar".

Pemerintah meyakinkan warga bahwa tidak ada rekaman medis yang diubah, seperti dihapus atau diubah datanya. Selain itu, tidak ada catatan dokter, diagnosis atau hasil tes yang dicuri oleh para hacker.

Bagi 1,5 juta pasien yang menjadi korban serangan ini, hacker hanya mencuri informasi pribadi, termasuk nama, alamat, gender, ras, tanggal lahir dan nomor identitas nasional. 

Namun, tidak ada informasi medis mereka yang dicuri. Semua pasien yang terkena dampak serangan akan dihubungi dalam waktu lima hari. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.