Pembuat Mirai Botnet Dihukum Bekerja untuk FBI

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 19 Sep 2018 11:04 WIB
teknologi
Pembuat Mirai Botnet Dihukum Bekerja untuk FBI
Pemerintah AS ingin tiga pembuat Mirai botnet menerima hukuman untuk bekerja dengan FBI.

Jakarta: Tiga hacker muda di balik botnet Mirai -- salah satu alat untuk melakukan penyerangan siber terhebat saat ini -- kini harus membantu FBI mencegah serangan siber di masa depan.

Ini merupakan bagian dari hukuman mereka. Ketiganya telah bekerja untuk FBI selama satu tahun belakangan, menurut dokumen pengadilan yang dimasukkan minggu lalu, seperti yang disebutkan CNET.

Sekarang, pemerintah memberikan rekomendasi agar ketiganya mendapatkan hukuman untuk terus bekerja untuk FBI, bukan hukuman berupa hukuman penjara selama lima tahun dan denda sebesar USD250 ribu.

"Bekerja dengan FBI, tertuduh bisa membantu mencegah serangan siber yang berpotensi memiliki dampak mengerikan dan mengembangkan strategi konkret untuk memitigasi metode serangan baru," kata para pengacara pemerintah Amerika Serikat.

"Informasi yang diberikan oleh tertuduh telah digunakan oleh anggota komunitas keamanan siber untuk melindungi sistem AS dan internet secara keseluruhan."

Pada awalnya, seorang pengawas masa percobaan menyarankan agar ketiga hacker ini dikenakan hukuman berupa masa percobaan selama lima tahun dan kewajiban untuk melakukan layanan masyarakat selama 200 jam.

Karena bantuan ketiga hacker itu terbukti berarti, para penuntut telah meminta agar hukuman berupa layanan pada masyarakat dinaikkan menjadi 2.500 jam. Waktu ini akan menyertakan "kerja sama dengan FBI terkait topik kriminalitas siber dan keamanan siber."

Pemerintah di berbagai negara memang berusaha untuk memberikan hukuman baru pada para hacker yang tertangkap untuk pertama kalinya. Dengan begitu, mereka berharap para hacker ini bisa direhabilitasi dan direkrut untuk membantu pemerintah mencegah serangan siber di masa depan.

Pemerintah Inggris menyebut program ini sebagai "workshop intervensi kriminalitas siber" yang pada dasarnya merupakan tempat latihan bagi para hacker muda yang memiliki kemampuan hebat tapi terdorong untuk melakukan tindakan kriminal.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.