Negara Kepulauan Ini Antar Vaksin Pakai Drone

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 01 Nov 2018 13:56 WIB
drone
Negara Kepulauan Ini Antar Vaksin Pakai Drone
Wingcopter adalah salah satu perusahaan drone yang diajak bekerja sama.

Jakarta: Untuk negara kepulauan dan negara yang tidak memiliki infrastruktur memadai, drone bisa digunakan tidak hanya untuk mengumpulkan foto atau data, tapi juga sebagai alat pengirim obat-obatan.

Ialah Vanuatu, negara kepulauan di Pasifik. Negara itu bekerja sama dengan UNICEF dan dua perusahaan drone mengantarkan vaksin ke kawasan pedesaan dengan drone. Vanuatu memiliki 83 pulau yang tersebar dalam kawasan seluas sekitar 1.600 kilometer. 

Untuk mengantarkan vaksin ke kawasan pedesaan, para pekerja kesehatan biasanya harus berjalan selama berjam-jam. Terkadang, mereka memerlukan waktu beberapa hari untuk mencapai kawasan terpencil, bahkan dengan menggunakan kapal atau mobil.

Drone dapat membantu masyarakat yang tinggal di kawasan yang sulit dijangkau mendapatkan suplai vaksin ketika diperlukan, menurut laporan Engadget. Dua perusahaan drone yang dipilih oleh Vanuatu adalah Swoop Aero dari Australia dan Wingcopter dari Jerman.

Program percobaan yang berlangsung selama tiga bulan ini akan dimulai pada Desember. Penerbangan uji coba pertama akan dilakukan pada 3 dan 7 Desember. Fokus tes itu adalah untuk mengantarkan suplai ke desa tertentu.

Dalam fase percobaan kedua, yang akan diadakan pada Januari 2019, drone kedua perusahaan akan menerbangkan suplai ke fasilitas kesehatan di tiga pulau. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan jangkauan wilayah yang mendapatkan vaksin, dari 75-85 persen menjadi 95 persen dalam waktu dekat.

Meskipun begitu, UNICEF sadar bahwa program ini memiliki risiko tersendiri. 

"Ada banyak faktor yang kita belum ketahui -- apakah drone akan bisa terbang dengan benar, apakah ia akan mendarat di tempat yang kami inginkan, apakah orang-orang di sana akan menerima drone itu ataukah drone akan dijatuhkan oleh anak-anak dengan ketapel?" kata Andre Parket, Chief of Field Office, UNICEF pada The Guardian

Itulah alasan mengapa UNICEF berusaha membuat masyarakat terbiasa dengan drone. Dengan harapan mereka tidak akan kaget ketika mereka melihat drone terbang di atas desa mereka. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.