Ini Cara Kominfo Hadapi Hoaks

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Rabu, 03 Oct 2018 17:47 WIB
kominfo
Ini Cara Kominfo Hadapi Hoaks
Ilustrasi.

Jakarta: Hoaks bisa meresahkan masyarakat. Terkadang, hoaks justru berakhir dengan kekerasan di dunia nyata.

Facebook dan WhatasApp telah melakukan berbagai cara untuk meredam penyebaran hoaks. Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga memiliki cara tersendiri untuk meredam hoaks. 

"Pertama, kami selalu berusaha untuk menyampaikan informasi yang kami nyatakan sebagai hoaks ke masyarakat," kata Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu saat ditemui di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu, 3 Oktober 2018.

"Saat ada laporan masuk, kita sesegera mungkin memberitahukannya ke masyarakat." Untuk meredam hoaks, ada tiga pendekatan yang mereka lakukan. Pertama adalah pendekatan hukum. 

Ferdinandus mengatakan, menurut Hukum UU ITE, konten yang melanggar kesusilaan, perjudian, memuat penghinaan dan pencemaran nama baik dan menyebabkan permusuhan terkait isu SARA, maka pembuat konten akan mendapatkan ancaman maksimal enam tahun penjara. Ferdinandus menyebutkan, ini bisa menimbulkan efek jera. 

"Kedua, pendekatan IT, kami memiliki sistem crawling," kata Ferdinandus. Sistem crawling milik Kominfo memungkinkan mereka untuk menelusuri konten yang dilaporkan oleh masyarakat.

Selain itu, Kominfo juga memiliki 70 orang yang bekerja untuk melakukan verifikasi temuan dari sistem crawling

Ferdinandus juga mengatakan, untuk menyatakan sebuah konten sebagai hoaks, Kominfo akan mencari bukti yang lengkap. Proses klarifikasinya pun cukup lama. Dia mengatakan, SOP (Standar Operation Procedure) adalah 3 x 24 jam.

Kominfo juga bekerja sama dengan perusahaan penyedia layanan media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk menghapus konten yang telah dinyatakan sebagai hoaks. 

"Terakhir, kami memiliki literasi digital," kata Ferdinandus. Tujuannya adalah untuk membuat masyarakat menjadi semakin sadar untuk tidak menyebarkan hoaks. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.