Pendiri WhatsApp Merasa Menjual Privasi Pengguna ke Facebook

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Kamis, 27 Sep 2018 15:05 WIB
media sosialfacebookwhatsapp
Pendiri WhatsApp Merasa Menjual Privasi Pengguna ke Facebook
Ilustrasi.

Jakarta: Salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton menjadi miliarder ketika dia menjual aplikasi buatannya pada Facebook.

Untuk mengakuisisi WhatsApp pada 2014, Facebook rela membayar USD22 miliar. Walau keputusannya ini membuat Acton menjadi sangat kaya, keputusan itu tampaknya membuat hidupnya menjadi tidak tentang, menurut laporan Forbes. 

Acton meninggalkan WhatsApp pada 2017. Jan Koum keluar pada Agustus lalu. Ketika itu, Koum menjabat sebagai CEO. Menurut laporan CNET, keputusan Acton untuk keluar membuatnya kehilangan uang sebesar USD850 juta. 

Dikabarkan, alasan para pendiri WhatsApp mundur adalah karena mereka tidak setuju dengan cara Facebook untuk memonetisasi WhatsApp, yang memiliki lebih dari 1,5 miliar pengguna.

Koum dan Acton enggan menggunakan model bisnis iklan tertarget, yang menggunakan data pribadi pengguna agar Facebook bisa menampilkan iklan sesuai dengan ketertarikan pengguna. 

"Saya menjual privasi pengguna saya untuk mendapatkan untung," kata Acton pada Forbes. "Saya membuat keputusan dan pengorbanan. Dan saya harus hidup dengan keputusan itu."

Facebook tidak memberikan komentar. 

Memang, Facebook kini sedang mendapatkan pengawasan ketat sejak skandal Cambridge Analytica tersebar pada bulan Maret.

Dalam skandal itu, diketahui bahwa informasi pribadi dari 87 juta pengguna Facebook digunakan oleh perusahaan konsultasi digital asal Inggris untuk kampanye Donald Trump, yang kini menjadi Presiden Amerika. Ketika itu, Acton membuat kicauan, "Sudah waktunya. #Hapusfacebook."

Komentar Acton muncul pada hari Rabu, ketika Facebook sedang sibuk dengan keputusan dua pendiri Instagram untuk mundur. Alasan Kevin Systrom dan Mike Krieger mengundurkan diri juga dikabarkan karena ketidakcocokan keduanya dengan Zuckerberg.

Facebook diduga mengetatkan kendali mereka atas Instagram, meski pada awalnya, Facebook menjanjikan otonomi pada media sosial pembagi foto itu. 


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.