Kaleidoskop 2017

Evolusi Smartphone, Makin Canggih Makin Bosan?

Ellavie Ichlasa Amalia, Lufthi Anggraeni    •    Jumat, 29 Dec 2017 12:17 WIB
kaleidoskop 2017
Evolusi Smartphone, Makin Canggih Makin Bosan?
Kamera ganda menjadi salah satu tren smartphone tahun ini.

Jakarta: Tahun 2017 menjadi momentum produsen menghadirkan smartphone dengan berbagai aspek eksklusif. Mereka tidak lagi melihat spesifikasi sebagai salah satu nilai jual utama. Sebelumnya, konsumen selalu dihadapkan dengan daftar komponen yang terpasang, seperti prosesor, resolusi layar, dan RAM. Spesfikasi yang menarik sudah menjadi satu keharusan, dan mereka mencoba melihat potensi lain.

Artikel Medcom.id kali ini merangkum teknologi apa saja yang sudah produsen smartphone ciptakan, serta prediksi fitur eksklusif untuk tahun 2018. 
 

Tren tahun 2017


1. Bezel-less / layar rasio 18:9
Pada awalnya, Xiaomi disebut sebagai "Apple dari Tiongkok". Tidak heran jika pada awalnya, smartphone buatan perusahaan itu memang memiliki desain yang sangat mirip dengan iPhone. Namun, kini, Xiaomi tidak hanya mengekor perusahaan produsen lain.

Xiaomi memulai tren bezel tipis dengan meluncurkan Mi Mix pada akhir tahun lalu, diikuti dengan Mi Mix 2 tahun ini. Sejak saat itu, para manufaktur smartphone seolah-olah terobsesi membuat smartphone dengan desain bezel atau bingkai setipis mungkin. Akibatnya, tahun ini, layar dengan rasio 18:9 juga mulai populer.


Xiaomi Mi Mix 2. (MTVN)

Meskipun punya nama yang berbeda-beda, smartphone yang meluncur tahun ini mengusung bezel tipis dan layar dengan rasio 18:9 atau 18,5:9. Pada smartphone premiumnya, Samsung menggunakan layar dengan rasio 18,5:9 dengan bingkai tipis yang mereka sebut “InfinityEdge”.

Untuk membuat layar InfinityEdge, Samsung rela menghilangkan tombol Home fisik pada bagian depan ponselnya. Sebagai gantinya, mereka menggunakan tombol Home, back dan recent apps virtual. Mau tidak mau, perusahaan asal Korea Selatan itu juga harus memindahkan sensor sidik jari dari bagian depan dan memasangnya pada bagian belakang ponsel. Alhasil, muncul protes terhadap letak sensor sidik jari pada Galaxy S8 dan Galaxy Note 8 yang dirasa agak aneh.


Sensor sidik jari pada Galaxy Note 8. (MTVN)

Apple mengambil tindakan yang lebih ekstrem. Untuk membuat bezel iPhone X setipis mungkin, Apple menghapus tombol Home dan Touch ID. Demi mengganti sensor sidik jari, mereka membenamkan fitur pengamanan baru yang disebut Face ID. Seperti yang terlihat dari namanya, fitur ini membuka kunci ponsel menggunakan wajah pengguna.

Sebagai teknologi baru, Face ID belum bekerja sesuai harapan sepenuhnya. Para pengguna iPhone X masih menemui beberapa masalah terkait sistem pengamanan baru dari Apple tersebut.

Misalnya, Face ID tidak bisa digunakan untuk memverifikasi pembelian aplikasi keluarga. Selain itu, juga beredar video yang menunjukkan bagaimana seorang anak membuka iPhone X milik ibunya



Sama dengan Samsung, LG juga menggunakan desain bezel tipis pada smartphone premiumnya: LG G6 dan V30+. Gagal dengan ponsel modular tahun lalu, LG belajar dari kesalahan dan fokus untuk membuat ponsel sesuai dengan tren, yaitu desain dengan bezel tipis. 

Berbeda dengan Samsung Galaxy S8, yang terkesan ringkih jika terjatuh, LG G6 memiliki bodi yang terkesan kokoh dengan sudut yang melengkung. LG menjelaskan, bagian yang paling rentan rusak ketika ponsel terjatuh adalah sudut layar. Dengan sudut melengkung, LG berusaha meminimalisir kemungkinan tersebut dan membuat ponsel menjadi lebih tangguh. Selain bezel tipis, LG juga menyematkan dua kamera belakang pada G6 dan V30+. 

Tren bezel tipis tidak hanya digunakan pada smartphone premium, tapi juga smartphone kelas menengah, seperti Huawei Nova 2i, Vivo V7+, dan Oppo F5. Namun, tentu saja, desain ponsel-ponsel tersebut tidak seapik ponsel premium, karena keduanya memang ada di kelas yang berbeda. 


Vivo V7+. (MTVN)

Tren desain smartphone tanpa bezel ini tampaknya masih akan terus berlanjut hingga tahun depan. Untungnya, tahun depan para manufaktur ponsel tampaknya tidak perlu lagi bingung dimana tempat yang tepat untuk meletakkan pemindai sidik jari karena mereka bisa menanamkan sensornya langsung ke layar.


2. Kamera ganda
Pada 2016, ada setidaknya tiga  ponsel cerdas yang dilengkapi dua kamera belakang, yaitu Apple iPhone 7 Plus, LG V20 dan Huawei Mate 9. Tren kamera ganda masih berlanjut hingga tahun 2017.

Hanya saja, tahun ini, fitur kamera ganda tidak hanya dapat ditemukan pada smartphone premium, tapi juga pada smartphone kelas menengah. Selain itu, kamera ganda tidak melulu diletakkan pada bagian belakang, tapi juga bagian depan.

Tergantung perusahaan pembuat smartphone, kamera kedua pada ponsel memiliki fungsi yang berbeda-beda. LG memilih untuk memasangkan kamera dengan lensa yang lebih lebar pada LG G6 dan LG V30+


LG V30+. (MTVN)

Lain halnya dengan Huawei. Perusahaan asal Tiongkok itu menggabungkan lensa warna (RGB) dengan lensa monokrom untuk kamera ganda pada P10. Menurut situs pemberi rating kualitas foto DxOMark, Huawei P10 dapat menghasilkan foto yang cukup baik dalam segala kondisi, termasuk dalam keadaan cahaya redup. DxOMark memberikan nilai 87 pada ponsel premium Huawei yang satu ini, lebih tinggi dari iPhone 7, tapi kalah dari tiga iPhone baru tahun ini. 

Huawei sebenarnya masih memiliki satu smartphone yang mendapatkan nilai yang sama dengan iPhone X, yaitu Huawei Mate 10 Pro. Sayangnya, ponsel itu belum masuk di Indonesia. Kabarnya, Huawei akan merilis ponsel tersebut di Indonesia pada awal tahun depan. 

Tidak ketinggalan, Samsung dan Apple juga menyematkan dua kamera pada smartphone. Kedua perusahaan itu menggunakan dua kamera pada ponsel agar pengguna dapat mengambil efek Bokeh atau latar belakang yang mengabur.


Contoh foto dengan efek Bokeh menggunakan Galaxy Note 8. (MTVN)

Sama seperti tahun sebelumnya, Apple hanya menanamkan dua kamera belakang pada varian Plus dari iPhone 8. Tentu saja, iPhone X juga memiliki kamera ganda. Dengan nilai 97 dari DxOMark, iPhone X adalah ponsel dengan kamera terbaik kedua. 

Sementara itu, Samsung memasangkan kamera ganda pada Galaxy Note 8, tapi tidak pada Galaxy S8. Dari skor DxOMark, Galaxy Note 8 setara dengan iPhone 8 Plus dengan nilai 94. Menariknya, nilai tertinggi berhasil didapatkan oleh Google Pixel 2, yang tidak memiliki dua kamera. 

Pada tahun ini, fitur kamera ganda juga mulai merakyat. Fitur tersebut tidak lagi hanya digunakan pada smartphone premium, tapi juga kelas menengah seperti jajaran ZenFone 4 dari ASUS, Xiaomi Mi A1, Moto G5s Plus, dan Huawei Nova 2i. Semua smartphone itu sudah dilengkapi dengan kamera ganda, meski memiliki harga tidak lebih dari Rp6 juta.

2. Selfie
Dimana ada gula di situ ada semut. Selama masih ada orang yang senang untuk mengambil foto selfie, maka akan selalu ada produsen smartphone yang meluncurkan ponsel pintar dengan kamera depan sebagai fitur utamanya, sebut saja Oppo dan Vivo. 

Oppo mulai fokus dengan fitur kamera depan ketika meluncurkan Oppo F1. Sejak saat itu, kamera depan selalu menjadi fitur utama smartphone buatan Oppo. Perusahaan asal Tiongkok itu bahkan mengklaim dirinya sebagai "selfie expert" dan kini "selfie expert and leader". 

Oppo membuka tahun ini dengan meluncurkan Oppo F3 dan F3 Plus. Satu keunggulan Oppo F3 Plus adalah dua kamera depan yang berfungsi untuk mengambil swafoto dengan sudut yang lebih lebar. Oppo menyebutkan, dengan fitur ini, Anda tidak perlu lagi repot-repot menggunakan tongsis saat mengambil foto bersama teman dan keluarga Anda. 


Oppo F3 Plus. (MTVN)

Oppo bukan satu-satunya pihak yang berpikir untuk memudahkan penggunanya dengan kamera depan yang memiliki sudut lebar. Begitu juga dengan LG. Perusahaan asal Korea Selatan itu meluncurkan LG K10 (2017) pada bulan Maret tahun ini. 

Hanya saja, LG tidak menyematkan dua kamera depan pada K10. Satu kamera depan ponsel itu memang sudah dilengkapi dengan fitur ultra-wide. Tidak hanya itu, LG juga tidak mengagung-agungkan resolusi besar pada ponsel buatannya.

Menurut LG, masyarakat Indonesia memang pantas untuk disebut sebagai “selfie mania”, tapi kebanyakan foto selfie hanya diunggah ke media sosial, yang memang melakukan kompresi pada foto yang diunggah. Alhasil, harga K10 pun jadi jauh lebih murah dari Oppo F3 Plus. 

Selain Oppo, Vivo menjadi perusahaan lain yang menawarkan dua kamera depan. Hanya saja, pada V5 Plus, Vivo tidak memasang kamera dengan lensa lebar. Mereka menggunakan dua kamera depan agar pengguna mengambil foto dengan efek Bokeh atau latar belakang yang mengabur. 


Contoh selfie dengan efek Bokeh menggunakan Vivo V5 Plus. (MTVN)

ASUS juga ikut masuk ke dalam pasar smartphone selfie, meski perusahaan asal Taiwan itu tidak melulu mengusung selfie sebagai fitur unggulan. Pada ZenFone 4 Selfie dan Selfie Pro, ASUS menyematkan dua kamera depan. Fungsi dua kamera depan ini sama seperti Vivo V5 Plus, yaitu memungkinkan Anda mengambil foto dengan efek Bokeh.

Selain itu, ASUS juga mengklaim bahwa ZenFone Selfie miliknya adalah smartphone yang mengambil foto di tempat remang-remang dengan kualitas terbaik. ASUS berani membuat klaim ini karena aperture kamera depan ZenFone Selfie yang cukup besar, yaitu f/1.8. Sebagai perbandingan, baik. Vivo V7+ dan Oppo F5 memiliki aperture yang lebih kecil, yaitu f/2.0. 

Apa hubungan besaran aperture dengan kualitas foto di tempat gelap? Semakin kecil nilai aperture, semakin besar bukaan kamera. Artinya, semakin banyak cahaya yang masuk ketika Anda mengambil foto.


ASUS ZenFone 4 Selfie Pro. (MTVN)

Pada pertengahan November, Oppo meluncurkan ponsel baru, F5. Kali ini, Oppo justru kembali menggunakan satu kamera depan. Ketika ditanya terkait hal ini, Oppo mengatakan bahwa mereka ingin membuktikan menggunakan satu kamera sudah dapat menghasilkan foto yang lebih bagus dari dua kamera. 

Di F5, Oppo mengunggulkan fitur Personalized AI Beautification Effect. Oppo mengklaim, fitur ini merupakan jawaban atas permasalahan pada fitur beautification pada smartphone lain. Saat ini, hampir semua smartphone memiliki fitur beautification. Fitur tersebut biasanya membuat wajah menjadi semakin halus, mata semakin lebar. Namun, fitur itu sebenarnya tidak bisa digunakan pada segala kondisi. 

Sementara dengan bantuan AI, Oppo mengklaim bahwa mereka akan bisa menggunakan fitur beautifcation pada wajah pengguna tidak peduli bagaimana keadaan sekeliling ketika pengguna mengambil foto. 

Menariknya, tren selfie mendorong para peneliti untuk mengkaji obsesi mengambil selfie merupakan penyakit mental atau tidak. Menurut penelitian tersebut, para penderita selfitis -- obsesi mengambil selfie -- menjadikan kegiatan selfie sebagai dorongan menambah kepercayaan diri atau perasaan mereka. 

Setelah muncul laporan ini, apakah para manufaktur smartphone akan tetap mengeluarkan ponsel dengan fitur kamera utama sebagai fitur unggulan? 
 
 

Prediksi 2018

Meninggalkan tahun 2017 dan menyambut tahun 2018, smartphone diprediksi mengalami perkembangan dalam hal teknologi yang mendukung dan melengkapinya.

Sejumlah teknologi yang telah mulai menunjukan diri pada tahun 2017 diprediksi akan kembali menyapa konsumen hingga menjadi tren pada tahun 2018. Berikut teknologi yang kami prediksi akan menjadi tren di tahun depan.

1. Augmented Reality dan Virtual Reality
Produsen seperti Samsung telah menunjukan keseriusannya dalam menghadirkan produk yang telah mendukung teknologi VR melalui Gear VR. Perangkat tersebut dapat terhubung dengan berbagai smartphone Galaxy unggulannya.

Kehadiran tren teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) juga didukung oleh pengembangan berbagai komponen, seperti kamera, kecepatan performa berkat dukungan sensor dan prosesor, serta desain yang diusung.

Optimalisasi sejumlah hal pendukung tersebut semakin memungkinkan teknologi AR dan VR disematkan dalam smartphone. Selain itu, optimalisasi tersebut juga akan mendorong smartphone untuk lebih mandiri dalam menyuguhkan konten AR dan VR, dan mengurangi ketergantungan terhadap kacamata.

AR dan VR juga diprediksi akan menjadi tren di tahun 2018 berkat dukungan salah satu tren, yaitu layar bingkai tipis. Kehadiran tren layar yang memenuhi hampir seluruh bodi memungkinkan smartphone untuk menampilkan konten lebih luas dan menyenangkan untuk dinikmati.

Selain itu, AR dan VR kian digadang sebagai salah satu tren yang muncul pada tahun 2018 berkat beredarnya informasi bahwa Apple tengah serius dalam mengembangkan ARKit. Tidak ketinggalan, Google juga semakin menyeriusi pengembangan ARCore.



Keseriusan Apple dan Google yang membentuk divisi pengembangan khusus, turut mendukung pernyataan analis yang menyebut VR akan menjadi teknologi besar di masa mendatang, sementara AR akan menjadi lebih besar meski membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan VR.

Bibit teknologi AR pada smartphone juga terlihat berkat kemunculan game buatan Niantic yang memanfaatkan karakter dari anime populer, Pokemon Go. Game yang sempat menjadi terpopuler di dunia tersebut belum menunjukan tanda akan berhenti hadir di pasar game mobile dunia.

Sebab hingga saat ini Niantic masih gencar merilis pembaruan untuk Pokemon Go. Baru-baru ini, Niantic meluncurkan game berisi Pokemon unik dan bertema tertentu, dalam menyambut hari Natal.



Tidak hanya soal game, penggunaan teknologi AR dan VR di smartphone juga akan meluas ke bidang lainnya. Hal tersebut diperlihatkan oelh kehadiran sejumlah perusahaan seperti produsen furnitur asal Swedia yaitu IKEA, yang turut memanfaatkan peningkatan popularitas dan kemampuan teknologi ini.

Memanfaatkan platform ARKit karya Apple, IKEA telah menghadirkan aplikasi yang memungkinkan pengguna menempatkan perabot secara virtual saat mengarahkan kamera smartphone ke bidang tertentu di ruangan yang diinginkan.

Sementara itu, pasar perangkat AR dan VR dunia diprediksi akan mencapai nilai tinggi pada akhir tahun 2018 mendatang. Menutup tahun 2018 mendatang, pasar perangkat tersebut akan mencapai nilai sebesar USD4 miliar (Rp57 triliun).


2. Kecerdasan Buatan (AI)
Kecerdasan buatan (AI) mungkin sebelumnya merupakan teknologi yang dinilai sangat canggih dan sulit untuk diwujudkan. Keberadaan Siri sebagai asisten virtual pada smartphone buatan Apple atau Google Assistant untuk Android, menjadi bukti bahwa teknologi ini bukan hal mustahil untuk dicapai.

Menjadi salah satu produsen yang terjun ke ranah teknologi asisten virtual di smartphone, Apple terus mengembangkan Siri di tahun 2018. Keseriusan tersebut diindikasikan oleh izin paten yang diterima Apple guna memungkinkan Siri menerima dan mengeksekusi perintah, meski disampaikan dalam kondisi berbisik.



Perkembangan kecerdasan buatan di ranah smartphone kian meningkat sejak Google turut menyambangi ranah yang sebelumnya didominasi Apple tersebut melalui kehadiran Google Assistant. Asisten virtual Google tersebut digadang akan lebih unggul di tahun 2018 jika dibandingkan dengan pesaingnya.

Sebab, Google Asistant terintegrasi dengan layanan Google lainnya, termasuk layanan penerjemahan bahasa. Integrasi tersebut memungkinkan Assistant untuk memahami lebih banyak bahasa dengan lebih mudah, berkat basis data bahasa Google yang tergolong cukup lengkap.

Sementara itu, Google Assistant yang utamanya tersedia pada perangkat karya Google, telah merambah ke smartphone Android lainnya. Ketersediaannya tersebut yang  memungkinkan lebih banyak pengguna mengakses di berbagai perangkat.

Kemudahan yang disuguhkan Google Assistant juga akan menjadi hal yang dapat ditemukan pada tahun 2018, sebab Google juga tengah berupaya menghadirkan kemampuan yang memudahkan pencarian aplikasi pihak ketiga via asisten virtual tersebut.

Tidak hanya Apple dan Google, ranah AI yang diwujudkan via asisten virtual di smartphone juga didukung oleh Amazon Alexa, yang turut hadir di sejumlah smartphone termasuk Huawei Mate 9.

Menawarkan kemudahan lebih baik berkat keterjangkauan perangkat yang lebih baik, popularitas Alexa di smartphone masih belum sebaik versi speaker. Namun Kehadirannya di smartphone menjadi langkah awal Alexa dalam memeriahkan ranah asisten virtual di ponsel cerdas.



Tidak hanya di smartphone, Google mulai mengintegrasikan Google Assistant pada sejumlah perangkat lain seperti speaker.

Hal tersebut memungkinkan sejumlah fungsi smartphone juga dapat dilakukan pada perangkat tersebut. Termasuk pada speaker cerdas karyanya, yaitu rangkaian Google Home.

Namun, penggunaan teknologi AI karya Google tersebut akan semakin meluas di tahun 2018. Sebab pada tahun ini, sejumlah perusahaan teknologi kian gencar merilis peralatan yang dapat diintegrasikan dengan Google Home.

Tidak hanya speaker berkemampuan terhubung dengan internet, sejumlah perangkat seperti soket listrik, lampu, dan pengendali suhu berkemampuan serupa dapat memanfaatkan Google Assistant untuk mempermudah proses pengendalian.

Didominasi oleh tiga nama besar tersebut, tahun 2018 akan menjadi tahun persaingan sengit antar asisten virtual, terutama dengan kemunculan kompetitor baru karya Samsung yaitu Bixby.

Pada tahun 2017, Bixby mungkin belum banyak mengeluarkan kemampuannya, sebab masih terbentur oleh sejumlah hambatan, termasuk keterbatasan dukungan bahasa. Di tahun 2018, Samsung diprediksi belum akan menyerah dan akan terus mengembangkan Bixby.



Tidak hanya melengkapi dukungan bahasa yang saat ini masih terbatas pada bahasa Korea dan Inggris, di tahun 2018, Samsung diprediksi akan menghadirkan lebih banyak dukungan terkait bahasa, setidaknya bahasa Inggris dengan berbagai logat.

Atau mungkin, Samsung akan menghadirkan perangkat lain yang dapat terintegrasi dengan Bixby sehingga dapat dikendalikan via asistsen virtual tersebut. Terlebih setelah Samsung dirumorkan akan meluncurkan speaker cerdas karyanya dengan integrasi Bixby di tahun 2018.


3. Pemindai Sidik Jari di Layar
Kemajuan teknologi tidak hanya menghadirkan berbagai kemudahan untuk pengguna, juga mendorong peningkatan peluang terhadap tindak kejahatan via medium digital. Lebih dikenal masyarakat karena menyerang perangkat PC tidak berarti smartphone aman dari serangan kejahatan tersebut.

Hal ini mendorong sejumlah perusahaan produsen smartphone untuk menghadirkan dukungan fitur keamanan lebih baik pada perusahaannya. Salah satunya melalui kehadiran fitur pemindai sidik jari.

Pemindai sidik jari telah menjadi salah satu fitur yang dapat ditemukan di berbagai smartphone, baik di kelas entry level hingga high-end. Tidak hanya menghadirkan fitur tersebut, perusahaan teknologi juga kian gencar mengembangkan teknologi ini.

Rangkaian rumor yang beredar selama tahun 2017 menjadi pendukung teknologi pemindai sidik jari pada bagian layar perangkat akan menjadi tren di tahun 2018. Sebab sejumlah produsen smartphone telah mulai menunjukan upaya pengembangan guna mewujudkan kehadiran teknologi tersebut pada perangkat mereka.

Sebab pada tahun 2017 ini, Vivo telah memamerkan prototipe sensor pemindai sidik jari di bagian layar. Vivo juga digadang sebagai produsen smartphone pertama yang akan membekali produk karyanya dengan teknologi tersebut, mendukung indikasi fitur tersebut akan menjadi tren di tahun 2018.



Tidak hanya Vivo, Samsung juga menunjukan ketertarikannya dalam mengembangkan teknologi ini, dengan mendaftarkan paten terkait teknologi ini pada Oktober 2017 lalu. Hal ini kian memperkuat indikasi bahwa teknologi ini menjadi tren yang akan memeriahkan ranah smartphone pada tahun 2018 mendatang.



Kemunculan tren tersebut tidak dapat dilepaskan dari kehadiran tren perangkat dengan usungan desain yang didominasi layar pada bagian depan. Selain itu, tren rasio aspek layar 18:9 yang mengonsumsi sebagian besar bodi depan perangkat turut berkontribusi dalam pengembangan lebih lanjut dari teknologi pemindai sidik jari ini.

Tidak hanya produsen smartphone, perusahaan produsen komponen pendukung juga telah menunjukan kesiapannya untuk mendorong tren ini di tahun-tahun mendatang. Salah satunya adalah Qualcomm, yang telah mempersiapkan teknologi guna mendukung kehadiran fitur pemindai sidik jari di layar tersebut sejak tahun 2015.

Kesiapan Qualcomm tersebut dihadirkan melalui teknologi Snapdragon Sense ID 3D Fingerprint ultrasonik buatan sendiri, yang diperkenalkan pada tahun 2015 lalu. Dukungan Qualcomm juga ditunjukan saat mengumumkan teknlogi Fingerprint Sensors for Glass dan Metal ajang MWC Shanghai bulan Juni lalu.




(MMI)

Advan i6, Menjanjikan di Harga Rp1,5 Juta
Review Smartphone

Advan i6, Menjanjikan di Harga Rp1,5 Juta

2 days Ago

Advan i6 menawarkan performa cukup baik untuk perangkat di kelas harga terjangkau, yaitu Rp1,5 …

BERITA LAINNYA
Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.