Acer Predator League 2018

Acer Predator League 2018 Jadi Ajang Adu Kekuatan 8 Tim DOTA 2

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 16 Jan 2018 14:51 WIB
aceresportacer predator league 2018
Acer Predator League 2018 Jadi Ajang Adu Kekuatan 8 Tim DOTA 2
Acer Asia Pasifik Predator League 2018 akan mempertemukan perwakilan Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, India, Hong Kong, dan Sri Lanka.

Jakarta: Pada bulan Oktober lalu, Acer mengumumkan gelaran esport tingkat internasional pertamanya, Acer Predator League 2018 Asia Pasifik. Dalam ajang ini, Acer nantinya akan mempertemukan perwakilan Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, India, Hong Kong, dan Sri Lanka.

Setelah melewati tahap awal 3 bulan kini ajang Acer Predator League 2018 mendekati ajang utamanya di bulan Januari 2018 kini Acer Predator League sudah mempertemukan peserta untuk menjadi peserta yang juaranya akan mewakili Indonesia di ajang Final Asia Pasifik Acer Predator League 2018. 

Saat ini, sudah ada 4 tim yang akan dipertandingkan untuk menjadi perwakilan Indonesia di ajang tersebut yakni Destructor Gaming, Evoscubs, Obelix, dan Pondok Gaming Barracx yang kini layak disebut sebagai team semi pro.

Menariknya sebelum mereka bertanding satu sama lain untuk terpilih sebagai perwakilan Indonesia Acer ingin mengadu 4 tim tersebut dengan team profesional DOTA 2 yang menurut Acer sudah teruji kemampuannyan, yaitu Boom.id, Evos, The Watcher, dan RRQ.

Empat team pro sengaja diundang untuk memperketat seleksi juara yang akan menjadi wakil Indonesia di Final Asia Pasifik Acer Predator League 2018 dengan total hadiah senilai USD150.000 atau Rp2 miliar. Laga Indonesia Final sendiri akan digelar oleh Acer pada tanggal 18 Januari 2018.

Sebelumnya, Acer sudah menjaring tim peserta di ajang ini lewat babak kualifikasi yang tersebar di 12 kota besar dengan mengambil lokasi di 15 titik iCafe. Langkah tersebut pernah dituturkan Presiden Direktur Acer Indonesia Herbert Ang sebagai langkah jemput bola.

Jadi dengan membuka ajang tersebut lewat iCafe sehingga mereka bisa lebih mudah menjaring tim-tim baru yang selama ini memiliki kemampuan esport yang belum tampi di turnamen esport.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.