Negara Afrika Ini Segera Punya Mesin Super Deteksi Pornografi

Cahyandaru Kuncorojati    •    Minggu, 17 Sep 2017 19:24 WIB
bobmetrotvnews
Negara Afrika Ini Segera Punya Mesin Super Deteksi Pornografi
Uganda sedang gencar mengatasi konten pornografi.

Metrotvnews.com: Salah satu negara Afrika, Uganda, tidak lama lagi akan memiliki teknologi yang diklaim canggih, sehingga bisa benar-benar mendeteksi seluruh jenis konten pornografi. Canggihnya teknologi ini tidak hanya mampu mendeteksi, tetapi menghapus konten pornografi yang sempat tersimpan di perangkat yang digunakan.
 
Fr. Simon Lokodo, Menteri Etika dan Integritas Uganda menuturkan, teknologi yang sudah diinisiasi sejak tahun 2016 tersebut segera bisa diimplementasikan di negaranya. Disebutkan olehnya bahwa teknologi tersebut dikembangkan di Korea Selatan. Adapun teknologi tersebut memakan biaya sebesar USD88 ribu atau setara UGX300 juta jika menggunakan nominal mata uang Uganda.
 
Teknologi ini nantinya akan dikelola oleh Pornography Control Commitee Uganda yang dibawahi oleh Simon. Berbeda tipis dengan Indonesia, urusan pemblokiran akses atau pemberantasan konten pornografi di dunia siber ditangani oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
 
Belum diketahui secara jelas, apakah teknologi berbentuk sebuah mesin dengan sistem teknologi yang pintar atau hanya berupa sistem filterisasi yang mengandalkan akses yang disediakan oleh ISP (Internet Service Provider). Keterlambatan implementasi teknologi tersebut menurut Simon disebabkan oleh minimnya kemampuan teknologi tersebut menemukan frase atau kata kunci yang berkaitan dengan konten pornografi serta kemampuan teknisnya.
 
Simon merasa, teknologi tersebut sangat penting sehingga menjadi prioritas di negaranya. Dikutip dari iAfrikan, Uganda di tahun 2013 masuk dalam salah satu daftar negara pengkonsumsi konten pornografi terbesar di antara negara lain seperti Kenya dan Pakistan. Salah satu konten pronografi yang paling banyak dikonsumsi oleh Uganda adalah konten pornografi gay.
 
Di satu sisi tentu saja hal ini disambut positif mengingat negara tersebut adalah salah satu negara yang menentang keras hubungan sesama jenis. Di sisi lain, banyak pihak yang meragukan tujuan penerapan teknologi tersebut.
 
Masih seperti yang dikutip dari The Next Web, teknologi canggih tersebut dikhawatirkan menjadi cara pemerintah mengontrol dan mengetahui isi percakapan pribadi masyarakatnya, sama seperti yang terjadi di negara lain, misalnya Amerika Serikat yang terkenal dengan kecanggihan badan intelijen mereka. Di Indonesia sendiri, pandangan tersebut tampaknya belum terlintas di benak masyarakat Indonesia.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.