Mahkamah Agung AS Gelar Sidang Kasus Monopoli Apple

Lufthi Anggraeni    •    Selasa, 19 Jun 2018 09:15 WIB
apple
Mahkamah Agung AS Gelar Sidang Kasus Monopoli Apple
Mahkamah Agung menggelar sidang dengar pendapat terkait dengan dominasi distribusi aplikasi di platform iOS.

Jakarta: Kesuksesan Apple terkait distribusi aplikasi pada platform iOS menjadi permasalahan yang dinilai merugikan.

Hal ini mendorong sejumlah pihak mengajukan tuntutan hukum terkait pelanggaran hukum antitrust yang dilakukan App Store iOS, yang saat ini memasuki proses sidang di Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Hingga saat ini, masih belum diketahui secara pasti waktu tuntutan hukum ini didaftarkan ke Mahkamah Agung. Namun, pengadilan tertinggi tersebut memutuskan menggelar sidang untuk mendengarkan argumen terkait permasalahan ini pada bulan Oktober 2018 hingga Juli 2019.

Kasus antara Apple dan Pepper dimulai karena Apple tidak mengizinkan aplikasi tambahan dan tidak mengizinkan toko aplikasi lain untuk tersedia di App Store, sehingga toko aplikasi Apple ini dinilai memonopoli distribusi aplikasi pada platform tersebut.

Selain itu, karena Apple membebankan biaya 30 persen kepada pengembang di App Store, kasus ini juga menuduh bahwa biaya ini meningkatkan biaya apliaksi untuk seluruh pengguna. Biaya tersebut dihadirkan melalui biaya berlangganan layanan yang disebut sebagai pajak iOS.

Apple berpendapat bahwa tertutup sudah merupakan sifat iOS sejak awal, dan App Store adalah upayanya dalam menyediakan keamanan bagi pengguna. Selain itu, Apple juga menyebut bahwa perusahaannya tidak akan dapat menyaring keamanan aplikasi yang diinstal selain dari App Store.

Kasus Apple dan Pepper ini telah didaftarkan ke sistem pengadilan Amerika Serikat sejak tahun 2011, dan baru-baru ini diterima oleh Mahkamah Agung. Pengadilan tertinggi ini mulai berdiskusi terkait gelaran sidang dengan pendapat pada bulan Oktober lalu, sebelum mengambil keputusan.

Jika Apple menghadapi kekalahan, salah satu raksasa teknologi ini berpotensi untuk menerima denda dengan nilai mencapai jutaan dollar Amerika Serikat, atas dasar kerugian yang diciptakannya.

Terdapat pula spekulasi yang menyebut keputusan tersebut juga mempengaruhi cara kerja biaya dan harga di berbagai marketplace di internet, seperti Amazon, eBay, atau Google Play Store.

Dampak pada marketplace di internet ini dinilai akan menyulitkan ahli untuk memprediksi perubahan yang terjadi terkait dengan kompetisi pada marketplace tersebut, dan seberapa keras usaha yang perlu dilakukan penjual untuk memperoleh akses kepada pengguna.


(MMI)

Video /

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.