Paksa Vendor Pasang Chrome dan Search, Google Bisa Didenda

Cahyandaru Kuncorojati    •    Selasa, 10 Jul 2018 17:03 WIB
google
Paksa Vendor Pasang Chrome dan Search, Google Bisa Didenda
Ilustrasi layanan Google Search.

Jakarta: Seperti yang diketahui bahwa Google Chrome termasuk layanan yang paling populer dan diandalkan oleh banyak pengguna internet.

Kejayaan Google tersebut tampaknya kini mulai terusik, setelah komisi persaingan usaha Uni Eropa atau EU Commisioner for Competition mengajukan gugatan dan penalti atas aksi Google.

Mereka mewajibkan vendor gadget untuk memasang aplikasi Chrome dan menggunakan layanan mesin pencari Google Search sebagai bawaan.

Kepala EU Commisioner for Competition Margarethe Vestager menyatakan bahwa Google telah memaksakan vendor gadget berbasis Android untuk memasangkan aplikasi Chrome dan layana Google Search sehingga mereka tidak punya pilihan lain, seperti dikutip dari The Washington Post.

Menurut Vestager, hal ini memicu terjadinya dominasi Google di ekosistem digital dan internet, sehingga mematikan daya saing kompetitor. 

Sebelumnya, pihak EU Commisioner for Competition mengaku menemukan kebijakan yang harus ditaati oleh vendor gadget berbasis Android, bahwa mereka harus memasang aplikasi Google sebagai bawaan apabila ingin bisa mendapatkan akses mengunduh aplikasi dan layanan Google Play Store.

Sejauh ini pihak Google belum memberikan respons. EU Commisioner for Competition belum menentukan penalti atau denda yang bisa dijatuhkan kepada Google di Eropa. Namun, ada beberapa pihak yang menganggap Google tidak melakukan kesalahan.

Mereka yang tidak setuju terhadap langkah EU Commisioner for Competition menyatakan bahwa Google mengambil langkah tersebut sebagai cara membiayai pengembangan platform open source Android yang digunakan vendor gadget.

Seperti yang sudah diketahui bahwa Google sendiri memperoleh pendapatannya sebagian besar dari layanan iklan digital yang memanfaatkan penelusuran pengguna aplikasi Chrome dan mesin pencari Google Search.

Apabila EU Commisioner for Competition memberlakukan penalti ini, maka tentu saja akan berdampak cukup serius terhadap pemasukan pendapatan Google.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.