Amazon dan Alibaba Bersiap Perang Dingin di Asia Tenggara

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 05 Dec 2016 14:52 WIB
amazonalibabae-commerce
Amazon dan Alibaba Bersiap Perang Dingin di Asia Tenggara
Alibaba dan Amazon dapat memulai perang dingin di Asia Tenggara. (Entrepreneur)

Metrotvnews.com: Saat ini, di dunia e-commerce, tengah terjadi perang dingin antara Alibaba dan Amazon. Kemungkinan, perang ini akan terjadi hingga beberapa dekade. Namun, dalam waktu beberapa tahun ke depan, perang ini akan sangat terlihat di Asia Tenggara.

Di India, 2 pemain e-commerce yang ada, Flipkart dan Snapdeal harus menghadapi pesaing kaya dari Amerika Serikat, yang bersedia untuk mengeluarkan uang USD3 miliar (Rp40,5 triliun) untuk masuk ke negara itu. Begitu pula dengan Indonesia.

Rumor menyebutkan, Amazon rela mengeluarkan USD600 juta (Rp8,1 triliun) untuk bisa masuk ke pasar Indonesia. Dengan ini, Amazon berusaha untuk menguasai India di bagian barat dan Indonesia di bagian timur dengan Singapura sebagai pusatnya.

Alibaba juga tidak melewatkan peluang. Situs e-commerce asal Tiongkok ini mengeluarkan USD1 miliar (Rp13,5 triliun) untuk mengakuisisi Lazada. Melalui divisi finansialnya, Ant Financial, Alibaba memperluas ketertarikan investasinya di bidang finansial ke kawasan Asia Tenggara.

Dengan perusahaan raksasa AS dan Tiongkok berusaha masuk ke Asia Tenggara, apakah hal ini berdampak baik?

Menurut Forbes, dari sisi konsumen, hal ini adalah kabar baik, karena perusahaan yang ingin masuk ke pasar baru biasanya rela untuk membakar uang untuk mendapatkan pangsa pasar. Namun, bagaimana dampak masuknya e-commerce asing ke pesaing lokal yang telah ada?

Pastinya, e-commerce kecil tidak akan siap untuk menghadapi Amazon dan Alibaba. Hal ini terlihat dari Flipkart yang valuasinya turun. Kecil kemungkinan situs e-commerce di Asia Tenggara lebih siap untuk menghadapi raksasa e-commerce tersebut. Seolah hal ini tidak cukup buruk, ada masalah lain yang harus siap dihadapi situs e-commerce Asia Tenggara.

Di AS, Walmart telah menghabiskan USD10.5 miliar (Rp141,6 triliun) di bidang IT pada tahun 2015. Meskipun begitu, Amazon tetap berhasil melampaui nilai pasar Walmart pada tahun 2015. Para retailer di Asia Tenggara tampaknya tidak lebih siap dari Walmart untuk menghadapi Amazon.

Selain Amazon, mereka juga harus menghadapi Alibaba. Keduanya adalah perusahaan yang akan rela menggelontorkan uang dalam jumlah banyak untuk mengalahkan satu sama lain.

Hal ini memunculkan pertanyaan tentang langkah yang akan diambil oleh para konglomerat dan pemerintah di Asia Tenggara. Apakah mereka akan mengeluarkan regulasi yang melindungi startup dan mendorong inovasi di negara sendiri? Ataukah 2 raksasa e-commerce ini akan menguasai pasar Asia Tenggara ini sepenuhnya?

Jika tidak dihadapi dengan hati-hati oleh semua pemegang kepentingan dalam ekosistem e-commerce di Asia Tenggara, tidak tertutup kemungkinan, 2 raksasa e-commerce ini akan menghancurkan semua pihak yang ada dalam perang mereka.

Semua ini menunjukkan betapa pentingnya pasar Asia Tenggara. Ia akan menjadi tempat yang dapat menentukan sukses atau tidaknya rencana Alibaba dan Amazon untuk melakukan ekspansi global. Sudah pasti, Timur Tengah, Amerika Selatan dan Afrika menjadi bagian dari rencana jangka panjang mereka. Namun, saat ini, Asia Tenggara adalah pasar yang paling siap untuk dipanen.

Baik Tiongkok maupun AS kini telah menjadi pasar yang matang dan terlihat jelas pihak yang mendominasi di sana. Karena itu, potensi Asia Tenggara menjadi sangat menggoda. 

Pentingnya pasar Asia Tenggara tidak boleh diremehkan. Jika Perang Dingin e-commerce pecah di Asia Tenggara, maka hal ini juga dapat memengaruhi geopolitik AS dan Tiongkok. Selain itu, ia juga akan menunjukkan kemampuan Asia Tenggara sebagai inovator dan ekosistemnya yang terdiri dari konglomerat, pemerintah dan startup.

Satu hal yang pasti, di dunia dengan 2 raksasa, semua pihak harus melangkah dengan hati-hati.


(MMI)