Waspada, Malware Makin Sering Serang Konsumen Indonesia

Riandanu Madi Utomo    •    Selasa, 06 Sep 2016 20:32 WIB
cyber security
Waspada, Malware Makin Sering Serang Konsumen Indonesia
Chief Security Expert, Kaspersky Lab, Alexander Gostev (MTVN/DANU)

Metrotvnews.com, Jakarta: Meski tidak terlihat secara langsung, ancaman malware ternyata semakin berkembang di Indonesia.

Perusahaan keamanan digital Kaspersky Lab mengatakan bila setidaknya terdapat lebih dari 20 juta kali serangan malware pada pengguna Kaspersky di Indonesia. Angka tersebut tergolong tinggi dengan 51,7 persen pengguna Kaspersky terkena serangan malware sepanjang tahun 2015.

"Indonesia kini berada di peringkat ke-33 di dunia untuk serangan malware. Indonesia memang tergolong lebih aman jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, namun kita tetap harus waspada karena tingkat ancaman semakin naik setiap tahunnya," ujar Chief Security Expert, Kaspersky Lab, Alexander Gostev, saat melakukan presentasi keamanan digital di Indonesia hari ini, Selasa (6/9/2016).

Gostev juga memaparkan bila ancaman keamanan digital terus meningkat. Beberapa yang menjadi incaran para penjahan digital saat ini adalah perusahaan, rumah sakit, industri, dan perbankan.

Di perusahaan dan rumah sakit, para penjahat digital biasanya menggunakan ransomware untuk mendapatkan uang. Ransomware memanfaatkan malware khusus yang dirancang untuk mengunci semua data korban dengan enkripsi, lalu sang penjahat meminta uang tebusan agar data bisa dapat dikembalikan ke kondisi semula.

Sementara di level industri, para penjahan digital biasanya memanfaatkan malware untuk mengendalikan sistem komputer internal. Malware tersebut didistribusikan dengan cara yang sangat cerdik, yaitu mulai dari melalui email palsu, hingga USB drive yang sengaja dijatuhkan di dekat lokasi incaran dengan dengan tujuan bisa ditemukan oleh karyawan dan digunakan di komputer yang terhubung dengan jaringan internal perusahaan.

Di lini perbankan, tren yang sedang berkembang adalah pencurian dana melalui ATM. Berbeda dengan dua teknik sebelumnya yang biasanya mengandalkan social engineering, pencurian dana melalui ATM dilakukan secara langsung oleh para penjahat digital dengan menggunakan kartu ATM khusus yang telah dimodifikasi. Setelah memastikan ATM tidak terhubung ke jaringan pusat, mereka bisa menguras uang di ATM tersebut.

Gostev mengatakan bila semua kejadian tersebut sedang marak dan tenagh terjadi saat ini. Maraknya kejahatan digital juga tidak lain adlaah karena semakin banyaknya hacker yang menjual program dan fasilitas khusus kepada orang lain untuk melakukan tindakan kriminal digital. Program dan fasilitas tersebut dijual di pasar gelap (biasanya melalui deep web) dan transaksinya menggunakan BitCoin yang sulit dilacak.

"Saat ini Anda bisa menemukan paket program dan fasilitas untuk melakukan tindakan kriminal digital dengan sangat mudah. Harganya berada di kisaran USD5.000, namun penjualnya menjanjikan keuntungan hingga USD25.000 sehari," lanjut Gostev.

Lalu bagaimana caranya melindungi diri dari serangan tersebut. Untuk perusahaan jelas harus menggunakan solusi keamanan digital yang mumpuni. Sementara untuk individu dan pribadi, cukup gunakan software keamanan digital di berbagai perangkat, terutama perangkat mobile.

Gostev mengatakan bila kebanyakan pembobolan data berasal dari peragkat mobile, sehingga mengamankan perangkat mobile adalah cara yang paling tepat. Tentu saja software keamanan yang digunakan harus yang orisinil.


(MMI)

Video /