Xiaomi Punya Prosesor Sendiri, Apa Dampaknya?

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Jumat, 03 Mar 2017 15:21 WIB
xiaomi
Xiaomi Punya Prosesor Sendiri, Apa Dampaknya?
CEO Xiaomi saat peluncuran Surge S1. (AFP PHOTO / NICOLAS ASFOURI)

Metrotvnews.com: Xiaomi baru saja meluncurkan prosesor barunya, Surge S1. Perusahaan asal Tiongkok itu mengikuti jejak langkah Apple, Samsung dan Huawei, yang merupakan manufaktur ponsel yang juga membuat prosesornya sendiri. Kebetulan, ketiganya juga merupakan 3 penguasa pangsa pasar ponsel.

Namun, seberapa besar dampak yang akan muncul dengan peluncuran Surge S1?

Menurut Fortune, Xiaomi terakhir kali mendapatkan dana segar pada akhir tahun 2014. Ketika itu, Xiaomi mengagetkan dunia dengan nilai perusahaan yang mencapai USD45 miliar (Rp602 triliun). Saat ini, kemungkinan, valuasi Xiaomi telah jauh lebih rendah.

Pada 2015, pendapatan Xiaomi tidak tumbuh sementara pengiriman smartphone 2016 begitu mengecewakan sehingga mereka memilih untuk tidak mengumumkan angkanya. Sementara usaha mereka untuk menjual perabot rumah tangga cerdas juga kurang berhasil.

Dalam konferensi pers pada hari Selasa, Pendiri Xiaomi, Lei Jun berkata, "Kemampuan untuk menciptakan prosesor sendiri merupakan pencapaian tertinggi untuk perusahaan smartphone manapun."

Prosesor memang memiliki peran penting untuk mengoptimalkan performa baterai, kecepatan dan performa ponsel. Namun, ia bukanlah satu-satunya faktor pendorong penjualan smartphone.

Di negara asalnya sendiri, Xiaomi harus menghadapi perusahaan-perusahaan yang telah melampaui mereka menggunakan strategi yang Xiaomi gunakan untuk mengalahkan para pesaingnya, yaitu menawarkan smartphone dengan spesifikasi menarik dengan harga terjangkau.

Namun, meluncurkan prosesornya sekarang, mungkin sudah terlambat bagi Xiaomi untuk memenangkan kembali hati para fans dengan smartphone berperforma lebih baik. Di Tiongkok, pangsa pasar Xiaomi turun drastis. Ia harus puas dengan peringkat 4, di bawah OPPO, Vivo dan Huawei.

Rencana mereka untuk memperluas pasar juga gagal terlaksana. Xiaomi sempat menjadi pembuat smartphone terbesar ketiga dunia. Kini, mereka bahkan tidak masuk ke 5 besar. Sebaliknya, Huawei, yang juga perusahaan asal Tiongkok, berhasil memanfaatkan jaringan bisnis telekomunikasi mereka untuk mendukung usaha smartphone mereka di dunia. 

Meskipun begitu, prosesor Xiaomi tetap mendapat sambutan meriah di Tiongkok. Lei Jun berkata, prosesor tersebut bahkan didukung oleh pemerintah lokal. Namun, di mata dunia, Xiaomi tetap harus berusaha keras untuk bisa kembali ke kejayaannya yang dulu.


(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.